Dompet Bitcoin Raksasa yang Tidur Sejak 2020 Bergerak, Pindahkan Rp5,9 Triliun

Sebuah dompet Bitcoin misterius yang telah menyimpan 4.581,94 BTC sejak Maret 2020 mendadak aktif kembali. Pemilik akun tersebut mentransfer seluruh saldo mereka ke lima alamat baru pada 12 Oktober dalam satu transaksi besar.
Data blockchain mencatat nilai aset tersebut mencapai sekitar USD 377 juta atau setara dengan Rp5,9 triliun pada saat transaksi berlangsung. Konfirmasi transfer terjadi pada blok 971.126 di saat harga satu koin Bitcoin berada di kisaran USD 82.350.
Struktur pembagian dana terlihat sangat rapi dalam transaksi ini. Empat alamat penerima mendapatkan masing-masing tepat 1.000 BTC, sementara alamat kelima menerima sisa saldo sebanyak 581,94 BTC.
Biaya transaksi yang dikeluarkan pemilik dompet tergolong sangat kecil, yakni hanya 732 satoshi atau sekitar Rp9.500 jika dikonversi. Sat sendiri merupakan unit terkecil dalam Bitcoin, di mana satu BTC setara dengan 100 juta satoshi.
Hingga pembaruan data pada blok 971.279, belum ada satupun dari lima alamat penerima tersebut yang melakukan transaksi keluar. Identitas pemilik dompet maupun tujuan akhir dari perpindahan aset ini masih menjadi teka-teki besar bagi para pengamat pasar kripto.
Pemilik dompet ini mengumpulkan asetnya pada 3 Maret 2020 ketika harga Bitcoin masih berada di kisaran USD 8.830 per koin. Saat itu, nilai total aset tersebut hanya sekitar USD 40,5 juta atau sekitar Rp634 miliar.
Ketabahan sang pemilik dompet dalam menyimpan aset kripto selama lebih dari empat tahun membuahkan hasil fantastis. Nilai investasi mereka tercatat melonjak hampir sepuluh kali lipat sejak pembelian awal di awal masa pandemi Covid-19.
Sepanjang perjalanan, aset tersebut sempat mengalami berbagai guncangan pasar hebat. Nilai portofolionya tergerus drastis saat Tesla menghentikan pembayaran Bitcoin dan China melakukan pengetatan aktivitas penambangan pada Mei 2021.
Dompet tersebut juga bertahan melalui periode kejatuhan ekosistem Terra, Celsius, hingga bursa kripto FTX pada 2022. Pada masa itu, nilai aset mereka sempat anjlok hingga menyentuh angka USD 71 juta di tengah kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor














