Harga Bitcoin Melandai Saat Pasar Saham Khawatir pada Sektor Kecerdasan Buatan

Harga Bitcoin mengalami fase konsolidasi setelah mencatatkan penurunan sebesar 3,2 persen pada sesi perdagangan Kamis waktu Amerika Serikat.
Aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar ini sempat berada di level rendah 80.840 dollar AS (sekitar Rp1,27 miliar) di bursa Bitstamp sebelum akhirnya bergerak stabil di bawah kisaran 82.000 dollar AS.
Pergerakan ini terjadi seiring dengan meningkatnya kekhawatiran investor global terhadap profitabilitas sektor kecerdasan buatan atau AI. Pasar saham merespons negatif keraguan mengenai keberlanjutan pendanaan infrastruktur teknologi yang selama ini menjadi penggerak utama pasar modal.
Salah satu perusahaan yang terdampak signifikan adalah CoreWeave, penyedia layanan infrastruktur awan untuk AI. Nilai saham perusahaan tersebut merosot hingga 15,5 persen dalam sepekan terakhir setelah Bernstein memangkas target harga saham mereka dari 74 dollar AS menjadi 51 dollar AS.
Tekanan ini menyebar ke pasar ekuitas secara lebih luas karena investor institusi kini mulai mempertimbangkan ulang komitmen belanja modal mereka. Perusahaan perdagangan kripto QCP Capital dalam analisisnya menyatakan bahwa ketegangan kredit di sektor infrastruktur neocloud memicu pelemahan pada saham-saham yang bergantung pada ekspansi teknologi AI.
Sentimen negatif tersebut turut menjalar ke pasar modal Asia pada perdagangan Jumat pagi. Indeks Komposit KOSPI di Korea Selatan sempat terperosok ke level 5.305 poin, yang merupakan titik terendah sejak akhir Juli, sebelum akhirnya ditutup sedikit menguat sebesar 0,3 persen.
CEO Nvidia Jensen Huang memberikan peringatan melalui wawancara dengan CNBC mengenai kendala pendanaan dalam pengembangan teknologi masa depan. Dia menyebutkan bahwa saat ini terdapat kesenjangan antara besarnya permintaan modal dengan ketersediaan pendanaan yang ada di pasar.
Kondisi ekonomi ini diperburuk dengan laporan belanja modal yang lebih rendah dari ekspektasi pada beberapa raksasa teknologi, termasuk Tesla. Analis menilai bahwa biaya pendanaan yang tinggi akan membatasi laju pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan dan menurunkan ekspektasi profil imbal hasil bagi proyek-proyek padat modal.
Dampak dari ketidakpastian pasar ini terlihat jelas pada aliran modal masuk ke produk dana investasi atau ETF Bitcoin di Amerika Serikat. Pada Kamis lalu, ETF Bitcoin spot mencatat arus keluar bersih mencapai 635 juta dollar AS (sekitar Rp10,03 triliun), angka penarikan harian terbesar sejak akhir Juni.
Para pedagang di pasar derivatif kripto juga mengalami guncangan akibat fluktuasi harga yang mendadak ini. Data dari CoinGlass menunjukkan total likuidasi aset kripto mencapai 336 juta dollar AS (sekitar Rp5,3 triliun) dalam kurun waktu 24 jam, di mana sebagian besar merupakan posisi beli atau long yang terpaksa ditutup oleh sistem karena harga jatuh ke batas bawah kisaran perdagangan.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor


















