Starknet Berencana Menjadi Layer 1, Harga Token STRK Melonjak 20 Persen

Jaringan skalabilitas Ethereum Starknet mempertimbangkan untuk beralih menjadi blockchain layer 1 yang berdiri sendiri demi menghadapi tantangan teknologi di masa depan. Kabar mengenai rencana ambisius ini langsung memicu kenaikan harga token STRK sebesar 20 persen dalam kurun waktu 24 jam terakhir.
Saat ini, token STRK diperdagangkan di kisaran harga USD 0,073 atau sekitar Rp1.189 per keping.
Lonjakan harga tersebut menunjukkan pemulihan signifikan karena nilai token kini mencapai dua kali lipat lebih tinggi dari posisi terendah pada April lalu. Kondisi ini bertepatan dengan periode ketika StarkWare, perusahaan di balik Starknet, melakukan restrukturisasi staf untuk menyeimbangkan pendapatan operasional perusahaan.
Sebagai informasi tambahan bagi pembaca, layer 1 merupakan lapisan dasar sebuah blockchain seperti Bitcoin atau Ethereum yang mengesahkan dan mengamankan transaksinya secara mandiri. Sebaliknya, Starknet saat ini berfungsi sebagai layer 2, yaitu jaringan yang menumpang di atas Ethereum untuk memproses transaksi dalam kelompok besar guna meningkatkan kecepatan. Jaringan layer 2 biasanya tetap mengandalkan keamanan dari rantai induknya untuk memastikan keabsahan data dan integritas jaringan secara keseluruhan.
Fokus utama dari rencana perubahan ini adalah antisipasi terhadap munculnya komputer kuantum yang diprediksi mampu merusak sistem keamanan kriptografi saat ini. Mesin canggih tersebut di masa depan kemungkinan besar bisa memecahkan kriptografi kurva eliptik, sebuah metode matematika yang digunakan untuk membuktikan kepemilikan aset digital pada dompet kripto.
Starknet mengeklaim bahwa sistem pembuktian mereka sudah menggunakan fungsi hash yang dianggap jauh lebih tahan terhadap serangan komputer kuantum.
CEO StarkWare Eli Ben-Sasson menjelaskan bahwa ancaman dari teknologi kuantum mungkin hadir lebih cepat daripada perkiraan para ahli sebelumnya. Menurutnya, kecepatan perkembangan kecerdasan buatan dalam memecahkan persoalan matematika menambah risiko baru yang memaksa pengembang masuk ke dalam mode perlindungan ekstra. Kondisi kesiagaan tinggi ini sering disebut sebagai bunker mode di kalangan komunitas peneliti keamanan blockchain yang sedang mempersiapkan diri menghadapi peretasan skala besar.
Sebagai jaringan layer 2, Starknet merasa sangat bergantung pada langkah pembaruan keamanan yang diambil oleh Ethereum sebagai fondasi utamanya. Ben-Sasson berpendapat bahwa Starknet hanya bisa seaman lapisan dasarnya, sehingga mereka membutuhkan Ethereum untuk melakukan pemutakhiran teknologi dengan sangat cepat.
Ethereum sendiri baru berencana untuk menerapkan infrastruktur inti yang tahan terhadap serangan kuantum pada sekitar tahun 2029. Peta jalan tersebut disusun oleh Ethereum Foundation setelah membentuk tim khusus untuk menangani ancaman teknologi pascakuantum pada awal tahun ini. Sementara itu, jaringan Bitcoin hingga saat ini belum memberikan komitmen serupa terkait pembaruan keamanan terhadap mesin kuantum dalam waktu dekat.
Dengan menjadi jaringan layer 1, Starknet akan memiliki otoritas penuh untuk mengatur jadwal peningkatan keamanan mereka secara mandiri. Mereka tidak perlu lagi menunggu kesiapan dari komunitas Ethereum atau Bitcoin untuk menerapkan protokol perlindungan terbaru yang dianggap mendesak. Namun, langkah ini juga memiliki konsekuensi teknis karena Starknet harus bertanggung jawab penuh atas seluruh ekosistem keamanannya sendiri tanpa bantuan validasi dari jaringan luar.
Pengembang Starknet belum memberikan penjelasan rinci mengenai nasib aplikasi dan pengguna yang saat ini sudah beroperasi di jaringan tersebut. Transisi dari lapisan tambahan menjadi blockchain mandiri merupakan proses teknis yang sangat rumit dan membutuhkan dukungan dari komunitas validasi yang luas.
Risiko lain yang muncul adalah kemungkinan kehilangan efek jaringan dari Ethereum yang merupakan ekosistem kripto paling aktif kedua di dunia setelah Bitcoin. Ethereum memiliki basis pengembang dan likuiditas yang sangat besar, sesuatu yang sulit dibangun kembali jika Starknet memutuskan untuk benar-benar memisahkan diri secara total dari perlindungan rantai induknya.
Meskipun kekhawatiran terhadap komputer kuantum terus meningkat, saat ini belum ada mesin yang benar-benar mampu membobol sistem blockchain yang ada.
Pendiri MicroStrategy Michael Saylor pernah mengungkapkan bahwa dirinya tidak terlalu merisaukan ancaman tersebut dalam waktu dekat. Ia berargumen bahwa institusi perbankan konvensional dan raksasa teknologi global akan menjadi sasaran utama yang lebih dahulu terdampak sebelum para peretas menyentuh jaringan kripto. Saylor menilai bahwa industri akan memiliki cukup waktu untuk beradaptasi serta melakukan pembaruan protokol sebelum teknologi komputer kuantum benar-benar matang di pasar luas.
Terlepas dari perdebatan tersebut, Starknet tetap mematok target untuk mencapai status tahan kuantum sepenuhnya pada tahun 2027. Target ini dua tahun lebih awal dibandingkan dengan rencana jangka panjang yang dicanangkan oleh ekosistem Ethereum untuk memitigasi risiko serangan siber di masa depan.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor












