Diplomasi Berani Haji Agus Salim Sindir Pangeran Philip di Penobatan Ratu Inggris

Diplomat senior Indonesia, Haji Agus Salim, menunjukkan keberanian luar biasa saat menghadiri penobatan Ratu Elizabeth II di London pada 3 Juni 1953.
Kehadirannya di Inggris saat itu merupakan tugas resmi dari Presiden Soekarno untuk mewakili pemerintah Indonesia di hadapan para petinggi kerajaan.
Agus Salim tiba di lokasi acara bersama Sri Paku Alam serta Duta Besar Indonesia untuk Inggris guna membangun relasi diplomatik dengan berbagai negara sahabat.
Dalam sebuah sesi santai yang memperbolehkan tamu undangan merokok, Agus Salim menyalakan rokok kretek khas Indonesia yang memiliki aroma kuat dan berbeda dari rokok tembakau biasa.
Aroma khas dari cengkeh tersebut segera memicu perhatian Pangeran Philip, suami Ratu Elizabeth II, yang kemudian mendekati Agus Salim dengan rasa penasaran.
Pangeran Philip bertanya secara spontan mengenai benda apa yang sedang diisap oleh diplomat tersebut, yang kemudian dijawab dengan penjelasan singkat mengenai kandungan tembakau dan cengkeh dalam rokok kretek.
Mendengar penjelasan itu, Pangeran Philip sempat melontarkan komentar bahwa aroma rokok tersebut terasa aneh dan tidak lazim bagi dirinya.
Menanggapi penilaian tersebut, Agus Salim memberikan jawaban tajam yang memutar balik sejarah kolonialisme di Indonesia.
Dia menyatakan bahwa bau yang tidak sedap itu berasal dari cengkeh, komoditas yang selama tiga abad terakhir menjadi alasan utama bangsa-bangsa Eropa termasuk Inggris berlayar menuju Nusantara.
Pernyataan tersebut diungkapkan Agus Salim sebagaimana tercatat dalam buku Haji Agus Salim (1884-1954): tentang perang, jihad, dan pluralisme yang diterbitkan pada 2004.
Suasana mendadak hening setelah jawaban itu meluncur, membuat para tamu undangan yang berada di ruangan tersebut terdiam.
Pangeran Philip tidak melanjutkan kritik atau komentarnya, ia kemudian meminta para hadirin untuk melanjutkan suasana santai yang sempat terhenti.
Kisah diplomatik ini pernah disinggung pula oleh Presiden Soekarno dalam pidatonya yang berjudul Berikan Jiwa Ragamu Sepenuh-penuhnya pada 12 September 1963.
Tindakan Agus Salim bukan sekadar balasan atas ejekan ringan terhadap rokoknya, melainkan sebuah pengingat historis mengenai ketergantungan ekonomi Eropa terhadap rempah-rempah Indonesia pada masa lampau.
Keberanian tersebut mencerminkan posisi tawar Indonesia yang setara di panggung internasional, bahkan saat berhadapan langsung dengan anggota keluarga kerajaan Inggris yang memiliki pengaruh besar pada saat itu.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor








