Forum Fasilitas Produksi Migas 2026 Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Forum Fasilitas Produksi Migas 2026 resmi berakhir di Jakarta pada Kamis, 3 September 2026, setelah berlangsung selama tiga hari penuh sejak 1 September.
Acara yang mengusung tema Securing Energy Supply Across Production Facilities and Infrastructure ini menjadi titik temu bagi para pemangku kepentingan untuk membahas penguatan infrastruktur hulu dan hilir migas nasional.
Agenda hari terakhir difokuskan pada sesi konsolidasi strategis serta pemberian apresiasi melalui IAFMI Innovation Award yang telah digelar rutin sejak 2023. Proses penjurian melibatkan akademisi dan praktisi industri untuk menyeleksi inovasi teknis yang mampu meningkatkan efisiensi fasilitas produksi di lapangan.
Tiga karya inovasi terbaik terpilih dalam ajang tersebut, dengan juara pertama diraih oleh tim yang memodifikasi fasilitas di Refinery Unit V Balikpapan untuk meningkatkan kapasitas produksi Pertamina Dex. Posisi kedua ditempati inovasi pemanfaatan limbah minyak mentah menjadi bahan baku di Kilang Balongan, sedangkan posisi juara favorit diraih oleh strategi rekonfigurasi kompresor untuk lapangan migas lepas pantai yang sudah matang.
Business Forum yang menjadi bagian dari rangkaian acara turut menghadirkan perwakilan Kementerian ESDM, SKK Migas, dan sejumlah asosiasi industri untuk membahas ekosistem rantai pasok. Fokus pembahasan mencakup integrasi operasional dan efisiensi manajemen persediaan guna menekan kendala logistik yang kerap menghambat produksi.
Ketua FFPM 2026, Irfan Eka Wardhana, mengungkapkan bahwa forum ini dirancang khusus untuk meruntuhkan sekat-sekat operasional antarperusahaan migas di Indonesia. Dinamika pasar saat ini menuntut sinergi lintas sektor yang lebih erat demi menjamin keberlangsungan suplai energi bagi masyarakat luas.
Sejalan dengan hal tersebut, Ketua IAFMI Luky A. Yusgiantoro menekankan tantangan utama industri saat ini adalah menjaga keandalan fasilitas produksi yang sudah menua agar tetap aman dan produktif. Pengembangan infrastruktur baru juga harus dilakukan dengan perhitungan anggaran serta jadwal yang lebih presisi agar target pemanfaatan cadangan energi tercapai.
Forum ini tidak hanya menjadi ajang diskusi teknis semata, tetapi juga media bagi operator dan penyedia jasa untuk merumuskan kebijakan berbasis data. Seluruh rekomendasi yang dihasilkan nantinya diharapkan menjadi acuan operasional bagi pelaku industri di masa depan.
Keberhasilan rangkaian kegiatan ini diharapkan mampu memperkokoh ekosistem industri migas domestik secara menyeluruh. Penguatan fasilitas produksi yang terintegrasi diyakini sebagai kunci utama untuk menghadapi tantangan energi di tahun-tahun mendatang tanpa mengabaikan aspek keberlanjutan dan efisiensi proyek.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor








