Lonjakan Kasus ISPA di Kalimantan Tengah Akibat Kabut Asap Karhutla

Kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini menyelimuti wilayah Kalimantan Tengah dan mulai mengancam kesehatan masyarakat secara serius.
Data Dinas Kesehatan Barito Selatan mencatat kenaikan drastis kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Jumlah penderita melonjak dari 584 kasus pada Juni menjadi 1.123 kasus per Agustus 2026.
Kepala Dinas Kesehatan Barito Selatan, dr Dadang Baskoro Nugroho, menyatakan mayoritas pasien mengalami gejala ringan. Mereka mendapatkan perawatan di puskesmas setempat, sementara kasus berat seperti pneumonia dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) dirujuk ke rumah sakit.
Pemerintah daerah telah menginstruksikan seluruh unit pelayanan untuk bekerja sama. Fasilitas pendukung seperti posko kesehatan dan rumah oksigen kini tersedia bagi warga terdampak.
Dokter Spesialis Paru dan Subspesialis Onkologi Toraks dari MRCCC Siloam Semanggi, dr Linda Masniari, SpP(K), memberikan peringatan keras mengenai bahaya paparan asap jangka panjang. Paparan berulang dengan konsentrasi tinggi dapat memicu cedera paru akut serta bronkitis kronis.
Bahaya yang lebih besar mengintai di balik polusi udara ini. Paparan asap karhutla dalam durasi lama bisa meningkatkan risiko seseorang menderita kanker paru.
Kondisi ini diperparah dengan akumulasi polutan dari sumber lain. Asap kendaraan bermotor, pembakaran sampah, dan paparan rokok memperburuk beban kerja paru-paru penduduk setempat.
Analisis data per 31 Agustus 2026 menunjukkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat berada pada level sangat tinggi. Partikel debu berukuran kecil atau PM2.5 dan PM10 menjadi polutan dominan yang berbahaya bagi pernapasan manusia.
Sebagai informasi, PM2.5 merupakan partikel udara yang berukuran lebih kecil dari 2,5 mikron. Ukuran yang sangat mikro ini memungkinkan partikel menembus hingga ke bagian terdalam paru-paru dan masuk ke aliran darah.
Situasi di Kalimantan Tengah menuntut kewaspadaan ekstra dari warga. Penggunaan masker standar N95 atau KN95 sangat disarankan saat beraktivitas di luar rumah demi menekan risiko kesehatan.
Pemerintah daerah saat ini tengah memantau perkembangan kualitas udara secara berkala. Pemetaan wilayah dengan tingkat polusi tertinggi menjadi basis pengambilan kebijakan mitigasi kesehatan lebih lanjut di tingkat lapangan.
Dampak karhutla ini menjadi pengingat bagi pihak berwenang mengenai urgensi pencegahan titik api sejak dini. Kerugian kesehatan masyarakat akibat kualitas udara buruk jauh melampaui biaya operasional pemadaman api di hutan dan lahan gambut.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)










