
Warga Pekanbaru kembali menghadapi tantangan serius akibat kabut asap yang menyelimuti kota. Kondisi ini dipicu oleh kebakaran hutan dan lahan yang masif di sejumlah wilayah.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru melaporkan, jarak pandang di ibu kota Riau ini terpantau sekitar 2,5 kilometer. Kualitas udara di Pekanbaru juga tercatat "sangat tidak sehat", berdasarkan data terbaru Minggu pukul 16.00 WIB.
Menurut prakirawan BMKG Stasiun Pekanbaru, Yudhistira, wilayah lain seperti Rengat juga diselimuti asap dengan jarak pandang 5 km. Sementara itu, Pelalawan 6 km dan Tambang 9 km juga terdampak asap.
Baca Juga:
Berdasarkan pengukuran PM 2,5, kualitas udara Pekanbaru terpantau "tidak sehat" di hampir sepanjang hari. Bahkan, pada pukul 17.00 dan 18.00 WIB, kualitas udara telah mencapai level "sangat tidak sehat" dengan konsentrasi PM 2,5 sebesar 170 mikrogram per meter kubik.
Situasi ini hanya membaik singkat, yakni antara pukul 04.00-06.00 WIB dan 11.00-13.00 WIB. Peningkatan kabut asap ini sejalan dengan lonjakan titik panas (hotspot) yang terdeteksi di Pulau Sumatra.
Pada Minggu sore, tercatat sebanyak 1.754 titik panas tersebar di Sumatra, dengan jumlah terbanyak di Sumatera Selatan (973 titik) dan Riau (306 titik). Kabupaten Pelalawan menjadi penyumbang terbesar titik panas di Riau dengan 161 titik, disusul Inderagiri Hilir 101 titik.
Masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker. Penanganan serius diperlukan untuk mengatasi krisis lingkungan yang berulang ini.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor
