Posisi Michael Carrick di Manchester United Goyah Usai Kekalahan dari Como

Posisi Michael Carrick sebagai pelatih Manchester United kini berada di ujung tanduk setelah timnya menelan kekalahan telak 1-4 dari Como dalam laga Liga Champions.
Kekalahan yang terjadi pada Rabu (21/10/2026) tersebut memicu gelombang kritik tajam dari internal tim. Para pemain mulai secara terbuka mempertanyakan arah taktik yang diterapkan sang pelatih di lapangan.
Bruno Fernandes selaku kapten tim dilaporkan melayangkan protes keras terhadap pendekatan taktik yang dianggap terlalu pasif. Di sisi lain, Youri Tielemans memilih untuk menyoroti rendahnya intensitas kerja keras rekan-rekannya selama pertandingan berlangsung.
Menurut laporan Sport Mole pada Jumat (23/10/2026), keretakan hubungan antara staf pelatih dan pemain semakin nyata terlihat. Suasana ruang ganti yang memanas ini menjadi indikator bahwa kepercayaan skuad terhadap kepemimpinan Carrick tengah berada di titik terendah.
Tielemans secara blak-blakan menyebut taktik secanggih apa pun tidak akan membuahkan hasil tanpa dedikasi fisik yang sepadan. Ia mengakui timnya tampil buruk dalam segala aspek saat menghadapi perwakilan Italia tersebut.
Kekecewaan mendalam juga disampaikan Tielemans kepada para penggemar yang terus memberikan dukungan meski hasil di lapangan mengecewakan. Ia menegaskan bahwa permohonan maaf tidak cukup tanpa adanya pembuktian nyata dalam laga mendatang.
Krisis di Manchester United sebenarnya sudah mulai terasa sejak hasil imbang 1-1 kontra Tottenham Hotspur pada awal Oktober lalu. Rentetan hasil buruk ini membuat pihak manajemen klub mulai mengevaluasi keberlangsungan karier Carrick di Old Trafford.
Pertandingan melawan Bournemouth pada Minggu (25/10/2026) menjadi ujian berat bagi Carrick untuk mempertahankan posisinya. Meski bermain di kandang, rekor pertemuan melawan Bournemouth menunjukkan bahwa laga tersebut tidak akan berjalan dengan mudah bagi tuan rumah.
Jadwal pertandingan yang menanti Setan Merah ke depannya tergolong sangat menantang karena harus bertemu dengan tim besar seperti Chelsea, Roma, hingga Liverpool. Tekanan yang menumpuk ini membuat setiap laga kini layaknya partai final bagi nasib sang pelatih.
Banyak pengamat sepak bola di Inggris menilai bahwa performa tim harus segera membaik dalam dua pekan ke depan. Jika tidak ada perubahan signifikan dalam pola permainan, kemungkinan besar manajemen akan mengambil langkah tegas berupa pergantian kursi kepelatihan.
Situasi ini kian rumit dengan munculnya spekulasi mengenai adanya perpecahan di antara para pemain. Kemampuan Carrick dalam meredam konflik internal akan menjadi kunci penentu apakah ia masih layak memimpin skuad di tengah tuntutan prestasi yang tinggi.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor












