Buku Cyberselfish Kembali, Mengungkap Sisi Gelap Techno-Libertarian Silicon Valley

Dunia teknologi sering kali dianggap cepat usang karena produk yang terus berganti, namun buku "Cyberselfish" karya Paulina Borsook justru menemukan relevansi baru setelah dua dekade lebih.
Buku yang pertama kali terbit pada tahun 2000 ini sempat menghilang dari peredaran, sebelum akhirnya kembali dicetak ulang oleh penerbit Tin House dengan pengantar baru dari Gil Durán.
Banyak pembaca baru kini beralih ke buku ini untuk memahami alasan industri teknologi dinilai telah kehilangan arah. Bagi Borsook, karyanya ini merupakan catatan perjalanan dalam menelusuri pengaruh techno-libertarianisme terhadap budaya di Silicon Valley.
Dalam sebuah wawancara daring, Borsook menjelaskan bahwa techno-libertarianisme adalah sekumpulan keyakinan yang sangat menentang regulasi pemerintah. Padahal, ia menyoroti fakta bahwa tidak ada sektor masyarakat yang mendapatkan manfaat lebih besar dari dukungan pemerintah selain para pelaku industri teknologi itu sendiri.
Seiring berjalannya waktu, sikap antipati terhadap regulasi ini seolah meresap ke dalam ekosistem teknologi layaknya pencemaran pada sumber air. Tanpa adanya koreksi, pola pikir tersebut justru semakin meluas dan mengakar di kalangan pemimpin kelas atas Silicon Valley.
Ketertarikan Borsook terhadap fenomena ini bermula secara tidak sengaja saat ia bergaul di kalangan komunitas teknologi di Bay Area pada awal 1990-an. Ia merasa ada keanehan pada pernyataan-pernyataan yang dilontarkan tokoh-tokoh teknologi saat itu, yang terasa sangat berbeda dari budaya ilmuwan yang ia kenal sebelumnya.
Borsook kemudian membedakan dua kelompok di Silicon Valley, yakni kelompok Ravers dan Gilders. Gilders digambarkan sebagai kelompok konservatif yang terobsesi dengan pemikiran reaksioner, sementara Ravers lebih condong pada liberalisme budaya namun tetap memiliki kesamaan dalam hal kebebasan pribadi yang radikal.
Kini, ia melihat kecenderungan tersebut terus berlanjut hingga ke era kecerdasan buatan atau AI. Baginya, narasi yang dibangun perusahaan teknologi besar saat ini hanyalah cara untuk menghindari regulasi dengan mengklaim diri sebagai entitas jenius yang tidak perlu diatur.
Menghadapi masa depan, Borsook mengaku merasa cemas terhadap generasi muda yang ingin berkarier di dunia teknologi namun tidak setuju dengan nilai-nilai toksik tersebut. Ia berharap adanya ruang bagi inovasi yang lebih bertanggung jawab dan tidak sekadar mengejar pertumbuhan bisnis yang eksploitatif.
Keputusannya untuk tidak mengubah isi buku dalam edisi terbaru ini didasari oleh keinginan untuk mempertahankan catatan sejarah yang autentik. "Cyberselfish" tetap menjadi cermin dari sebuah era yang terus membayangi perkembangan teknologi hingga saat ini.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor








![Review LineageOS 24: Solusi Android 17 untuk Memperpanjang Usia Ponsel LineageOS 24 review: Easier than ever to recommend [Video]](https://cdn.beritana.com/media/2026/10/lineageos-24-review-easier-than-ever-to-recommend-video.webp)
