Langsung ke konten
beritana

Analisis Dampak Kunjungan Xi Jinping ke Korea Utara di Tengah Pengaruh Rusia

Foto Beritana UpdateBeritana Update2 menit bacaWorld
Can Xi bring North Korea closer into Beijing's orbit?
The geopolitical landscape has shifted since Chinese President Xi Jinping last visited North KoreaImage: Xie Huanchi/Xinhua/picture alliance

Presiden China Xi Jinping tiba di Pyongyang untuk memulai kunjungan Xi Jinping ke Korea Utara yang pertama sejak 2019. Langkah diplomatik ini dilakukan saat pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, gencar mempererat kerja sama militer dan perdagangan dengan Rusia.

Hubungan bilateral kedua negara komunis ini telah berlangsung lama sejak berakhirnya Perang Korea pada 1953, dengan Beijing berperan sebagai penyokong dana utama bagi Pyongyang.

Melalui surat kabar resmi Korea Utara, Rodong Sinmun, Xi menegaskan bahwa persahabatan tradisional mereka tidak akan tergoyahkan oleh perubahan situasi internasional. Namun, kedekatan militer Pyongyang dengan Rusia dalam perang Ukraina membuat Beijing merasa perlu segera mengamankan pengaruhnya. Choo Jae-woo, profesor studi China dari Kyung Hee University, menilai bahwa Beijing merasa tertinggal dari pergerakan cepat Moskow dalam beberapa tahun terakhir.

Kunjungan ini juga dipandang tidak biasa karena berlangsung sebulan lebih cepat dari peringatan ke-65 perjanjian persahabatan kedua negara yang jatuh pada 11 Juli. Choo menganggap percepatan jadwal ini menunjukkan kecemasan Xi terhadap manuver Kim Jong Un yang semakin mendekat ke Rusia.

"Kim ingin memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan legitimasi rezimnya di panggung internasional," ujar Choo.

Korea Utara dilaporkan mengincar keanggotaan dalam aliansi multilateral bentukan China dan Rusia seperti BRICS atau Shanghai Cooperation Organization (SCO). SCO sendiri merupakan organisasi keamanan dan ekonomi di kawasan Asia Tengah dan Timur yang didirikan pada 2001. Jika berhasil bergabung, Kim dapat memosisikan negaranya sebagai anggota penuh komunitas internasional yang setara.

Selain aspek politik, Kim Jong Un juga mengincar kerja sama ekonomi untuk menjaga momentum pertumbuhan domestik. Perekonomian Korea Utara tercatat tumbuh stabil di angka 3,0 persen selama dua tahun terakhir berkat ekspor lintas batas dan kunjungan turis China.

Di sisi lain, mantan politisi Korea Selatan, Kim Sang-woo, melihat agenda tersembunyi China untuk menantang dominasi Amerika Serikat di kawasan Indo-Pasifik.

Beijing ingin memperlihatkan taji geopolitiknya kepada sekutu-sekutu Washington seperti Jepang, India, dan Australia. Momentum ini dinilai tepat karena Rusia saat ini tengah kepayahan dalam konflik berkepanjangan di Ukraina. Melalui langkah taktis ini, Beijing berupaya menegaskan posisinya sebagai kekuatan utama dunia yang dapat diandalkan oleh sekutunya.

Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update