Bertahan di Tengah Gempuran: Kisah Warga Sloviansk yang Terjebak Perang

Situasi di Sloviansk, kota di wilayah Donetsk, Ukraina timur, kian mencekam seiring dengan gempuran serangan udara Rusia yang terus menyasar pemukiman warga. Ribuan penduduk kini terjebak di tengah zona tempur, enggan atau tidak mampu meninggalkan kediaman mereka karena kendala biaya hidup serta ikatan emosional.
Beberapa hari lalu, serangan bom udara Rusia menghantam lingkungan perumahan di pinggiran kota tersebut. Ledakan mengenai sebuah gedung apartemen lima lantai dan menyebabkan sedikitnya tujuh orang terluka, menambah daftar panjang kerusakan di salah satu kota terakhir di Donetsk yang masih berada di bawah kendali Ukraina.
Tetjana, seorang pensiunan yang tinggal di sekitar lokasi kejadian, masih teringat jelas detik-detik mengerikan saat bom menghantam lantai dua bangunan di depannya. Ia mengaku nyaris tidak memiliki pilihan lain untuk mengungsi.
Biaya sewa tempat tinggal di daerah yang lebih aman bisa mencapai 400 euro atau setara dengan Rp6,8 juta per bulan, sementara uang pensiun yang ia terima hanya berkisar 67 euro atau sekitar Rp1,1 juta per bulan. Bantuan relokasi sebesar 40 euro atau Rp680.000 pun dirasa tidak akan cukup untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari di perantauan.
Kondisi di Sloviansk sendiri kian sulit karena pasokan gas telah diputus, meski air dan listrik masih mengalir di beberapa area. Penduduk yang tersisa mencoba bertahan dengan segala keterbatasan, termasuk mencari makanan di pasar yang sudah tidak lagi beroperasi normal.
Natalja, warga lanjut usia lainnya, terpaksa mondar-mandir menembus zona berbahaya untuk merawat saudara kembarnya yang sudah tidak bisa berjalan. Ia mengungkapkan kegelisahannya karena harus meninggalkan anjing peliharaannya jika ingin dievakuasi, sebuah dilema yang dialami oleh banyak warga di sana.
Saat ini, dari 100.000 penduduk asli Sloviansk, hanya sekitar 20.000 orang yang masih bertahan di kota tersebut. Mayoritas dari mereka adalah kelompok lanjut usia yang merasa tidak memiliki tempat tujuan setelah kehilangan harta benda dan menghadapi ketakutan akan masa depan.
Di pusat kota, tanda-tanda kehancuran terlihat jelas pada banyak bangunan, sementara transportasi umum telah dihentikan total sejak insiden serangan bus di Kramatorsk, sebuah kota tetangga yang berjarak sekitar 15 kilometer dari Sloviansk. Kramatorsk sendiri merupakan pusat administrasi sementara bagi wilayah Donetsk yang masih dikuasai Ukraina.
Meskipun drone terus berdengung di atas langit dan suara tembakan sesekali memecah kesunyian pasar, sebagian kecil warga masih mencoba menjalankan rutinitas. Valeriya, misalnya, tetap berjualan pakaian di pasar sambil membawa putri kecilnya, Sofia, karena sekolah telah tutup.
Harapan akan gencatan senjata tampak tipis bagi masyarakat setempat yang sudah menyaksikan nasib kota Bakhmut, kota yang hancur total setelah pertempuran panjang tahun lalu. Mereka kini hanya bisa berdoa agar militer Ukraina mampu mempertahankan posisi sembari menanti perubahan situasi yang belum jelas ujungnya.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor








:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379462/original/095287800_1792633034-Khvicha_Kvaratskhelia.jpg)



:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380266/original/038822100_1792663944-000_D3ZC226.jpg)
