Langsung ke konten
beritana

Dampak Ekonomi Perang Iran: Lonjakan Harga Energi hingga Ancaman Resesi Global

Foto Beritana UpdateBeritana Update2 menit bacaWorld
Here's how much the Iran war cost -- and how its effects will linger
Foto: NPR News

Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran yang kini mereda melalui kesepakatan gencatan senjata telah memberikan dampak ekonomi yang mendalam bagi dunia. Meskipun durasi konflik tergolong singkat, beban biaya serta konsekuensi pasca-perang diperkirakan akan membayangi pasar global selama bertahun-tahun mendatang.

Data terbaru dari Moody's Analytics menunjukkan bahwa perang ini telah menelan biaya sekitar USD 132 miliar (sekitar Rp2.100 triliun) bagi konsumen serta pembayar pajak di Amerika Serikat. Angka tersebut terus merangkak naik seiring dengan upaya pemulihan infrastruktur yang rusak akibat serangan siber maupun fisik di wilayah konflik.

Gangguan operasional di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital pengiriman minyak mentah dunia, memicu lonjakan harga energi secara drastis. Rata-rata harga bensin di AS sempat melonjak dari di bawah USD 3 per galon menjadi USD 4,56 per galon, yang secara langsung meningkatkan biaya hidup harian masyarakat secara signifikan.

Tidak hanya energi, sektor pertanian juga terdampak parah akibat kelangkaan pasokan pupuk yang naik hingga 47 persen. Kondisi ini menyulitkan para petani di berbagai negara, termasuk AS, untuk menjaga produktivitas pangan, yang pada akhirnya berpotensi memicu inflasi harga bahan pangan di tingkat konsumen.

Sektor properti turut merasakan imbasnya dengan kenaikan suku bunga kredit pemilikan rumah yang mencapai 6,52 persen. Ketidakpastian geopolitik telah membuat beban cicilan bulanan meningkat sekitar USD 110 bagi pembeli rumah rata-rata, yang secara tidak langsung menekan daya beli masyarakat di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi global.

Bank Dunia bahkan memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2026 menjadi 2,5 persen, level terendah sejak masa pandemi. Negara-negara di Timur Tengah, khususnya wilayah Teluk, mengalami tekanan ekonomi paling berat dengan proyeksi ekspansi produk domestik bruto yang menyusut tajam dari 4,5 persen menjadi hanya 1,3 persen.

Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update