Dua Pertemuan Global: Upaya China dan Amerika Serikat Rebut Pengaruh Dunia

Dunia sedang menyaksikan persaingan pengaruh global antara China dan Amerika Serikat yang tercermin melalui dua pertemuan internasional secara bersamaan.
Presiden China Xi Jinping menggelar pertemuan dengan pemimpin Rusia dan Iran untuk memperkuat poros kerja sama baru, sementara di sisi lain, negara-negara Eropa menantang kebijakan pemerintahan Donald Trump dalam forum G20.
Pemandangan ini menyajikan potret kontras mengenai pergeseran peta kekuatan dunia yang kini semakin terpolarisasi.
Pertemuan yang melibatkan China, Rusia, dan Iran mengirimkan sinyal kuat mengenai tantangan terhadap dominasi Barat dalam tatanan global saat ini.
Koalisi ini berupaya membangun aliansi alternatif yang berfokus pada ketahanan ekonomi serta politik, terutama guna menghadapi sanksi berat dari Amerika Serikat dan sekutunya.
Keterlibatan Iran, negara yang secara konsisten berada di bawah tekanan sanksi internasional, menjadi bukti bahwa Beijing ingin memperluas pengaruhnya hingga ke Timur Tengah.
Di belahan dunia lainnya, suasana di forum G20 jauh dari kesan kooperatif bagi Amerika Serikat.
Negara-negara Eropa secara terbuka menyatakan keberatan atas kebijakan proteksionis yang diterapkan oleh pemerintahan Donald Trump, terutama terkait tarif perdagangan dan kebijakan iklim internasional.
Ketegangan ini bukan sekadar perdebatan teknis, melainkan bentuk keresahan sekutu tradisional Amerika Serikat terhadap arah kebijakan luar negeri Washington yang dianggap semakin menarik diri dari komitmen global.
Kondisi ini menciptakan jurang pemisah yang lebar antara pandangan Amerika Serikat dengan mitra lamanya di Eropa.
Pemisahan fokus ini menunjukkan bahwa dunia sedang bergerak menuju era multipolar yang penuh dengan ketidakpastian.
China tampak memanfaatkan kevakuman peran kepemimpinan yang ditinggalkan Amerika Serikat untuk merangkul negara-negara yang selama ini merasa terpinggirkan oleh kebijakan Washington.
Sementara itu, Amerika Serikat masih bergelut dengan tantangan domestik yang membatasi kapasitasnya dalam menjalankan diplomasi tradisional secara efektif.
Analisis jangka panjang menunjukkan bahwa perpecahan ini berpotensi memicu reorganisasi aliansi ekonomi di masa mendatang.
Negara berkembang kini dipaksa untuk memilih posisi di antara dua raksasa ekonomi tersebut guna mengamankan kepentingan nasional mereka sendiri.
G20, sebagai forum kerja sama ekonomi utama dunia, kini sedang diuji kemampuannya dalam menjembatani perbedaan tajam ini.
Bagi banyak pengamat, situasi ini mengisyaratkan berakhirnya hegemoni tunggal yang pernah mendominasi kebijakan luar negeri global sejak berakhirnya Perang Dingin.
Keseimbangan kekuatan sedang diuji, dan setiap keputusan yang diambil dalam pertemuan-pertemuan ini akan berdampak pada stabilitas pasar dunia dalam beberapa tahun ke depan.
Dunia kini menunggu langkah apa yang akan diambil oleh para pemimpin besar tersebut guna mengelola rivalitas yang semakin memanas ini.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)











