Eskalasi Konflik di Laut Hitam Mengancam Pasokan Pangan Global

Eskalasi serangan terhadap pelabuhan dan kapal dagang di Laut Hitam kini mengancam kestabilan pasokan pangan global secara serius. Konflik yang melibatkan Rusia dan Ukraina di jalur pelayaran vital ini dikhawatirkan memicu lonjakan harga komoditas pangan pokok di berbagai belahan dunia.
Kedua negara yang bertikai terus saling meluncurkan serangan udara ke infrastruktur pelabuhan dan kapal-kapal pengangkut komoditas pertanian. Kondisi ini membuat para petani lokal di wilayah konflik menghadapi ancaman kebangkrutan karena hasil panen mereka tidak dapat diekspor. Hambatan logistik tersebut diperkirakan akan memicu guncangan pangan baru, mirip dengan krisis yang terjadi pada awal invasi tahun 2022.
Bagi Indonesia, situasi di wilayah perairan Eropa Timur ini berpotensi memberikan dampak ekonomi yang cukup signifikan. Tanah air masih sangat bergantung pada impor gandum sebagai bahan baku utama pembuatan mi instan, roti, dan tepung terigu.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Indonesia mengimpor jutaan ton gandum setiap tahunnya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi domestik. Gangguan distribusi dari Laut Hitam dipastikan akan menaikkan biaya pengapalan dan asuransi laut secara drastis. Akibatnya, industri makanan dalam negeri harus bersiap menghadapi kenaikan harga bahan baku impor tersebut.
Kesepakatan Koridor Gandum Laut Hitam yang sebelumnya diprakarsai oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa kini telah sepenuhnya runtuh.
Rusia menolak memperpanjang perjanjian tersebut dengan alasan sanksi barat menghambat ekspor produk pertanian mereka sendiri. Sejak saat itu, wilayah perairan internasional tersebut berubah menjadi zona tempur yang sangat berbahaya bagi kapal-kapal komersial.
Serangan rudal Rusia berulang kali menghantam kota pelabuhan Odesa yang menjadi gerbang utama ekspor Ukraina. Di sisi lain, Ukraina membalas dengan menggunakan drone laut untuk menargetkan kapal tanker dan kapal perang Rusia. Siklus aksi saling balas ini membuat jalur pelayaran komersial di kawasan tersebut hampir lumpuh total.
"Biaya pengiriman barang dari pelabuhan Ukraina kini naik hingga tiga kali lipat karena risiko keamanan yang luar biasa tinggi," ujar salah seorang pelaku usaha logistik internasional.
Ukraina mencoba mengalihkan rute pengiriman gandum mereka melalui Sungai Danube yang berbatasan dengan wilayah Rumania. Namun, infrastruktur di jalur alternatif ini kerap menjadi sasaran empuk serangan pesawat tanpa awak dari militer Rusia.
Para petani di Ukraina kini terpaksa menjual hasil panen mereka dengan harga sangat murah di pasar domestik. Pendapatan mereka menyusut tajam, sementara biaya operasional pertanian terus meroket akibat inflasi perang. Banyak dari mereka mulai mengurangi luas lahan tanam untuk musim depan karena ketiadaan modal kerja.
Jika ketegangan bersenjata ini terus berlanjut tanpa ada solusi diplomatik yang berarti, krisis pangan global yang baru tinggal menunggu waktu. Negara-negara berkembang dengan tingkat ketergantungan impor pangan yang tinggi akan menjadi pihak yang paling pertama merasakan dampaknya.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)










