Emmanuel Macron dan PM Andy Burnham Melihat Bayeux Tapestry Bersama Raja Charles

Presiden Perancis Emmanuel Macron memulai kunjungan selama dua hari ke Inggris dengan menyaksikan pameran artefak bersejarah Bayeux Tapestry bersama Raja Charles III dan Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham.
Kunjungan ini menandai momen langka karena artefak tersebut untuk pertama kalinya kembali ke tanah Inggris sejak abad ke-11. Bayeux Tapestry adalah sulaman sepanjang 70 meter yang menggambarkan peristiwa penaklukan Inggris oleh Normandia pada tahun 1066.
Macron hadir bersama istrinya, Brigitte, sementara Perdana Menteri Andy Burnham didampingi Marie-France van Heel. Mereka bertemu dengan Raja Charles dan Ratu Camilla di British Museum untuk mengamati secara langsung detail karya seni tersebut.
Raja Charles menyebut peminjaman artefak ini sebagai simbol kepercayaan yang berharga antara Inggris dan Perancis. Di sisi lain, Macron mengungkapkan bahwa hubungan kedua negara saat ini seerat benang-benang yang menyusun karya seni kuno tersebut.
Bayeux Tapestry sendiri biasanya tersimpan secara permanen di Bayeux, Normandia, Perancis utara. Artefak bernilai tinggi ini dikirimkan melintasi Selat Inggris secara rahasia pada Juli lalu untuk dipamerkan kepada publik selama sepuluh bulan, mulai 10 September mendatang.
Kesepakatan peminjaman ini merupakan hasil dari diskusi saat kunjungan kenegaraan Macron tahun lalu. Langkah ini dipandang sebagai upaya diplomasi budaya yang mempererat ikatan sejarah kedua bangsa.
Perdana Menteri Andy Burnham, yang baru menjabat enam pekan, menyatakan bahwa kembalinya kain sulam ini menjadi momen penting bagi hubungan bilateral. Ia juga menyinggung kerja sama teknis antara pemerintahannya dengan Perancis terkait penanganan migrasi ilegal di Selat Inggris.
Menurut Burnham, kerja sama tersebut berhasil menekan angka penyeberangan kapal kecil di Selat Inggris hingga mencapai level terendah dalam tujuh tahun terakhir. Pertemuan ini sekaligus menjadi ajang tatap muka perdana bagi Macron dan Burnham sebagai pemimpin negara.
Secara historis, Bayeux Tapestry menggambarkan keberhasilan William the Conqueror dari Normandia dalam menumbangkan Raja Harold Godwinson pada Pertempuran Hastings. Meskipun ada perdebatan mengenai akurasi sejarahnya, karya ini tetap menjadi bukti visual utama dari transisi kekuasaan besar di Inggris pada masa lalu.
Kehadiran artefak ini di London juga menjadi pengingat akan pengaruh budaya Perancis yang meresap ke dalam bahasa dan struktur sosial Inggris pasca-penaklukan tahun 1066. Bagi para sejarawan, pemulangan sementara karya ini dianggap sebagai perayaan atas sejarah bersama yang panjang antara kedua negara tetangga tersebut.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor











