Secara teknis, kesepakatan yang dirancang melalui mediasi AS di Washington ini mewajibkan evakuasi total semua elemen Hezbollah dari zona antara perbatasan Israel hingga Sungai Litani, sebuah jarak sekitar 30 kilometer ke arah utara. Di zona tersebut, Tentara Nasional Lebanon rencananya akan mengambil kendali penuh untuk menyingkirkan aktor non-negara. Namun, detail praktis mengenai lokasi dan operasional zona percontohan ini belum dijelaskan lebih lanjut.
Dampak dari buntu-nya negosiasi ini sangat nyata. Pada hari Kamis saja, serangan udara Israel dilaporkan terus berlanjut di selatan Lebanon. Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat setidaknya delapan orang tewas dan 15 lainnya terluka akibat gempuran di Sohmor, Masaken, dan Arab Al-Jalil. Bahkan, pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) turut menjadi korban jiwa setelah posisi mereka terkena serangan mortir.
Data dari Kementerian Kesehatan Lebanon menunjukkan bahwa sejak awal perang, sedikitnya 3.526 orang telah tewas. Selain itu, PBB mencatat lebih dari satu juta warga terpaksa mengungsi akibat perintah evakuasi yang mencakup lebih dari seperdelapan luas wilayah Lebanon. Di pihak lain, Israel melaporkan 26 tentaranya dan empat warga sipil tewas selama periode konflik ini.
Hezbollah sendiri tetap teguh pada posisinya. Kelompok milisi, partai politik, dan gerakan sosial yang didukung Iran ini memiliki kekuatan militer yang sering dianggap lebih tangguh dibandingkan tentara nasional Lebanon sendiri. Bagi Israel dan banyak negara Barat, organisasi ini tetap dikategorikan sebagai kelompok teroris.
Di tengah situasi yang terus memanas, kedua belah pihak dijadwalkan akan kembali bertemu pada 22 Juni mendatang untuk mengupayakan kesepakatan yang lebih komprehensif. Namun, dengan penolakan keras dari Hezbollah saat ini, jalan menuju perdamaian di kawasan tersebut tampak masih sangat panjang dan penuh duri.