Krisis Bahan Bakar Iran: Dampak Sanksi AS dan Perang terhadap Pasokan Energi

Antrean panjang kendaraan di stasiun pengisian bahan bakar kini menjadi pemandangan umum di berbagai sudut kota di Iran. Fenomena ini dipicu oleh kerusakan infrastruktur akibat perang, keterbatasan impor, hingga pengetatan sanksi ekonomi dari Amerika Serikat yang menekan ketersediaan energi dalam negeri.
Hanya berselang beberapa hari sejak Washington mengumumkan sanksi ekonomi baru, kelangkaan bensin di Iran menjadi semakin nyata di jalanan. Pengendara di berbagai kota melaporkan harus menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan bermalam di dalam mobil mereka, demi mendapatkan jatah bahan bakar sebelum pompa bensin kehabisan stok.
Situasi pada sektor bahan bakar diesel jauh lebih memprihatinkan bagi para pengemudi truk logistik. Antrean di sekitar kota-kota besar sering kali membentang hingga beberapa kilometer, memaksa pengemudi menetap di stasiun pengisian selama semalam agar kendaraan mereka dapat kembali beroperasi keesokan harinya.
Iran saat ini menghadapi defisit bensin sekitar 15 juta liter per hari. Masalah struktural yang sudah ada sejak lama tersebut kian sulit dikendalikan akibat kombinasi beban ekonomi, kesulitan dalam mengimpor produk olahan minyak, dan blokade perdagangan yang semakin ketat.
Seorang warga dari Karaj, kota di barat ibu kota Teheran, mengaku harus membatasi pembelian bensin hanya sekitar 5 liter dalam sekali pengisian. Ia menceritakan bahwa dirinya harus berupaya mendatangi beberapa lokasi sejak pagi buta namun tetap dihadapkan pada antrean yang tidak kunjung surut.
Terdapat kecurigaan di kalangan masyarakat bahwa kelangkaan ini sengaja diciptakan untuk memuluskan rencana pemerintah menaikkan harga energi. Meski klaim ini belum terverifikasi secara independen, narasi tersebut terus berkembang di tengah frustrasi warga yang merasa waktu hidup mereka habis hanya untuk mengantre bahan bakar.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor











