Negosiasi Nuklir dan Aset Iran: Upaya Amerika Serikat Mencapai Kesepakatan Damai

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan dengan Iran kini berada dalam jangkauan setelah kedua pihak mendiskusikan memorandum saling pengertian. Dokumen tersebut diharapkan dapat dituntaskan dalam beberapa hari mendatang untuk meredam ketegangan yang telah berlangsung selama tiga bulan.
Pejabat Iran mengonfirmasi bahwa belum ada draf resmi yang disetujui, namun mereka terbuka untuk menindaklanjuti proposal jika Washington bersedia melakukan penyesuaian. Kesepakatan ini menjadi langkah diplomatik paling krusial sejak konflik pecah yang mengakibatkan lonjakan harga energi global.
Inti perdebatan terletak pada program nuklir Iran, terutama pengelolaan sekitar 400 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen. Bahan tersebut secara teoretis dapat digunakan untuk memproduksi senjata nuklir jika pengayaan terus ditingkatkan.
Iran bersikeras mempertahankan hak pengayaan uranium sebagai daya tawar dalam negosiasi dan menolak moratorium jangka panjang selama 20 tahun yang diusulkan Amerika Serikat. Sebagai alternatif, Tehran menawarkan penghentian aktivitas selama lima tahun dan bersedia menurunkan kadar pengayaan dengan imbalan pencabutan sanksi.
Persoalan ekonomi juga menjadi batu sandungan, di mana aset Iran senilai sekitar USD 100 miliar (sekitar Rp1.600 triliun) masih dibekukan di berbagai negara. Tehran menuntut pelepasan dana sebesar USD 6 miliar hingga USD 12 miliar (sekitar Rp96 triliun hingga Rp192 triliun) untuk kebutuhan kemanusiaan.
Washington berencana melepas dana tersebut secara bertahap namun mewacanakan penggunaan sebagian aset untuk kompensasi kerusakan yang dialami sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk. Ketegangan di Selat Hormuz pun masih menjadi perhatian utama karena jalur sempit ini mengendalikan 20 persen perdagangan minyak dan gas dunia.
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update
Penulis: Beritana Update
Editor: Beritana Editor








