Polemik Dana Keamanan Pemilu AS hingga Kabar Duka Gloria Steinem

Dua legislator Demokrat di Amerika Serikat mempertanyakan langkah pemerintahan Trump yang menunda pencairan dana pengamanan pemilihan umum.
Senator Alex Padilla dan Joseph Morelle mendesak Departemen Keamanan Dalam Negeri segera menyalurkan dana sebesar USD 39,6 juta atau sekitar Rp626 miliar untuk perlindungan siber. Alokasi ini sebelumnya telah disetujui dalam anggaran tahun fiskal 2026, namun hingga kini realisasinya masih tersendat.
Para legislator tersebut menyatakan kekhawatiran mendalam mengenai singkatnya waktu yang tersisa bagi pejabat pemilu daerah. Mereka berupaya membentengi integritas suara warga dari ancaman disinformasi serta serangan peretasan yang terus mengintai.
Di bidang ekonomi, perusahaan energi Chevron menjalin kesepakatan investasi sebesar USD 7 miliar atau setara Rp110 triliun di Venezuela. Kerjasama ini bertujuan meningkatkan kapasitas produksi minyak negara tersebut hingga 600.000 barel per hari.
Sementara itu, kabar duka datang dari dunia aktivisme global. Gloria Steinem, tokoh feminis terkemuka sekaligus pendiri majalah Ms., meninggal dunia pada usia 92 tahun.
Sepanjang hidupnya, Steinem menjadi motor penggerak kesetaraan gender di Amerika Serikat. Ia dikenal konsisten memperjuangkan hak-hak perempuan melalui tulisan dan advokasi yang menjangkau masyarakat lintas negara.
Beralih ke ranah hukum, proses peradilan Lindsay Clancy masih menemui jalan buntu. Juri kembali gagal mencapai kesepakatan bulat setelah melakukan musyawarah selama 28 jam terkait kasus pembunuhan tiga anak oleh terdakwa.
Tim pembela Clancy menyatakan kliennya menderita psikosis pascamelahirkan sehingga tidak mampu mengendalikan tindakannya. Jika juri tetap tidak mencapai keputusan, hakim berpotensi membatalkan persidangan dan memerintahkan pengulangan proses hukum dari awal.
Di sisi lain, investigasi terbaru menunjukkan catatan resmi pemerintah Amerika Serikat sering kali gagal mendata kematian akibat cuaca panas ekstrem. Banyak kasus kematian yang dipicu suhu udara tinggi justru dikategorikan sebagai penyebab alami oleh koroner.
Kondisi ini menyulitkan upaya mitigasi dampak perubahan iklim terhadap kesehatan masyarakat. Para ahli medis kini mendesak adanya standarisasi pelatihan bagi penyelidik kematian agar pengaruh suhu ekstrem tidak lagi luput dari pendataan resmi.
Bergeser ke sektor properti, San Francisco kini menyandang predikat kota dengan biaya sewa apartemen termahal di Amerika Serikat. Lonjakan harga ini dipicu oleh euforia teknologi kecerdasan buatan atau AI yang menarik kembali banyak tenaga kerja ke pusat kota.
Rata-rata sewa bulanan di sana kini telah menembus angka USD 3.827 atau sekitar Rp60,5 juta. Hal tersebut memicu kekhawatiran mengenai krisis perumahan yang semakin akut bagi warga berpenghasilan menengah di kawasan Silicon Valley.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)







