Kenapa Banyak Wanita Sembunyikan Pacar dari Sahabat?

Hubungan asmara sering kali menjadi topik obrolan paling menarik saat berkumpul bersama sahabat dekat. Menjelang perayaan Hari Sahabat Nasional yang jatuh setiap tanggal 8 Juni, sebuah fakta menarik terungkap mengenai dinamika hubungan pertemanan dan kehidupan percintaan perempuan. Banyak dari kita yang menganggap sahabat sebagai penasihat cinta terbaik, namun ternyata kenyataannya tidak selalu demikian.
Menurut penelitian terbaru dari aplikasi kencan Hily, sahabat memang memegang peran besar layaknya pemengaruh atau 'influencer' dalam kehidupan percintaan kita. Survei tersebut menunjukkan bahwa 62 persen wanita secara terbuka mendiskusikan kehidupan seksual mereka dengan sahabat karibnya. Bahkan, sekitar 58 persen wanita mengaku pernah bertanya kepada sahabat mereka untuk memastikan apakah suatu hal dalam hubungan mereka normal atau justru merupakan tanda bahaya alias red flag. Angka ini jauh berbeda dengan laki-laki, di mana hanya sekitar 36 persen saja yang melakukan hal serupa.
Namun, pengaruh yang terlalu besar dari sahabat ini terkadang justru membuat seseorang memilih untuk menutup diri. Studi Hily juga menemukan fakta mengejutkan bahwa hampir tiga dari lima wanita, atau sekitar 60 persen, sengaja menyembunyikan detail tentang sosok yang sedang mereka kencani dari sahabat mereka. Alasan utamanya tidak lain adalah karena ketakutan akan dihakimi atau dinilai negatif oleh sahabat sendiri.
Julie Nguyen, seorang pelatih kencan bersertifikat dari aplikasi kencan Hily, menjelaskan fenomena ini lebih lanjut. Menurut Nguyen, banyak wanita yang sangat peduli dengan persetujuan lingkaran pertemanan mereka terhadap pilihan pasangan yang mereka buat. Rasa takut akan mengecewakan sahabat sering kali membuat wanita memilih menyimpan sendiri kisah asmara mereka. Akibatnya, mereka justru merasa terisolasi dari sistem pendukung utama mereka sendiri saat menghadapi masalah percintaan.
Nguyen menambahkan bahwa mengarungi dunia kencan sendirian bisa terasa sangat melelahkan dan membuat frustrasi. Di sinilah sahabat biasanya hadir sebagai sistem pendukung yang luar biasa untuk membuat proses tersebut terasa lebih ringan. Namun, ketika sahabat mulai terlalu mendominasi atau terlalu banyak mencampuri urusan asmara tersebut, seseorang bisa merasa kehilangan kendali atas keputusannya sendiri.
Melihat kenyataan bahwa mayoritas wanita menyembunyikan detail asmara mereka, penting bagi kita untuk belajar membangun ruang yang aman dan bebas dari penghakiman bagi sahabat. Menjadi pendengar yang baik tentu bukan berarti kita harus mendukung perilaku beracun atau hubungan yang tidak sehat yang dijalani oleh sahabat kita. Ini adalah tentang bagaimana memberikan masukan secara bijak tanpa membuat mereka merasa disudutkan.
Nguyen menekankan pentingnya menjaga keseimbangan yang tipis antara bersikap jujur mengenai potensi bahaya dalam hubungan teman dan tetap menghargai keputusan pribadi mereka. Pendekatan ini bisa diterapkan melalui batasan-batasan yang lembut. Artinya, kita tidak perlu terlalu memanjakan atau mendukung dinamika hubungan yang toksik, namun tetap selalu ada untuk mendengarkan dan mendukung sahabat kita sebagai seorang individu, apa pun pilihan hidup yang mereka ambil.
Langkah ini sangat krusial agar sahabat kita merasa didengar, divalidasi, dan pada akhirnya memiliki kekuatan untuk mengambil keputusan mereka sendiri. Ketika ruang yang aman ini tercipta, komunikasi yang jujur akan mengalir dengan sendirinya sehingga sahabat tidak merasa perlu menyembunyikan apa pun lagi. Sahabat yang baik seharusnya membantu menstabilkan penilaian kita dan melihat situasi dengan lebih jernih, bukan malah menggantikan intuisi kita sendiri.
Fenomena lain yang juga sering terjadi dalam dunia asmara adalah apa yang disebut sebagai hak veto teman atau 'friend veto'. Berdasarkan survei Hily, penolakan atau ketidaksetujuan sahabat terhadap pasangan kita ternyata memiliki dampak yang sangat nyata. Satu dari tiga wanita mengaku benar-benar kehilangan minat pada seseorang yang sedang mereka dekati murni karena sahabat mereka tidak memberikan restu atau menunjukkan ketidaksukaannya.
Di sisi lain, ada juga yang memilih untuk mengabaikan pendapat sahabat mereka. Sebanyak 63 persen wanita mengaku sempat mengabaikan saran negatif dari sahabat mereka tentang pasangan mereka. Namun, pada akhirnya mereka harus berlapang dada dan mengakui bahwa prediksi atau kekhawatiran yang disampaikan oleh sahabat mereka itu terbukti benar di kemudian hari.
Pertanyaannya kemudian, apakah kita harus selalu menuruti pendapat sahabat secara membabi buta tanpa menggunakan akal sehat kita sendiri? Tentu saja tidak. Namun, masukan dari sahabat sebaiknya tetap dipertimbangkan dengan kepala dingin sebagai bahan evaluasi yang berharga.
Menurut Nguyen, hak veto dari teman bisa menjadi hal yang sangat positif, asalkan berasal dari jenis teman yang tepat. Proses ini mirip dengan bagaimana kita menyaring nasihat hidup lainnya. Kita tentu ingin menerima saran dari orang-orang yang memang peduli dan mendukung kebahagiaan hubungan kita, bukan dari mereka yang hanya memproyeksikan masalah pribadi atau trauma masa lalu mereka ke dalam hubungan kita.
Menjadi sahabat yang baik dalam konteks ini berarti mampu menawarkan sudut pandang objektif tanpa ada keinginan untuk mengendalikan, serta menunjukkan kepedulian tanpa rasa ingin memiliki. Oleh karena itu, gunakanlah masukan atau pendapat dari sahabat-sahabat yang memiliki kematangan emosional. Sahabat yang dewasa secara emosional akan mampu membantu kita memperjelas situasi dan membantu kita terhubung kembali dengan intuisi diri kita sendiri dalam mengambil keputusan terbaik untuk hubungan asmara kita.
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update
Penulis: Beritana Update
Editor: Beritana Editor







