AS Jatuhkan Rudal dan Drone Iran di Tengah Eskalasi Teluk

Militer Amerika Serikat (AS) pada Jumat lalu mengklaim telah menembak jatuh rudal balistik dan pesawat nirawak atau drone milik Iran yang diluncurkan menuju Selat Hormuz serta sekutu-sekutu Arab di kawasan Teluk. Tidak hanya itu, AS juga melancarkan serangan balasan terhadap beberapa situs radar pengawasan pantai Republik Islam tersebut. Insiden baku tembak ini semakin memperparah gencatan senjata yang sebelumnya sudah rapuh antara Washington dan Teheran.
Rentetan serangan ini terjadi di tengah upaya pemerintahan Presiden Donald Trump yang gencar menekan Iran untuk mencapai kesepakatan, guna mengakhiri konflik yang berkepanjangan. Eskalasi ini memperlihatkan betapa tegangnya situasi di kawasan Timur Tengah, terutama terkait ambisi nuklir Iran dan pengaruhnya di regional.
Komando Pusat AS (CENTCOM) melalui unggahan di media sosial pada Jumat malam menyatakan, Iran menembakkan tujuh rudal balistik ke arah Kuwait dan Bahrain. Pasukan AS berhasil mencegat enam rudal di antaranya, sementara satu rudal lainnya gagal mencapai targetnya. Pihak militer AS memastikan tidak ada laporan mengenai korban atau kerugian pada personel mereka akibat serangan rudal balistik tersebut.
Peluncuran rudal balistik ini dilakukan Iran setelah pada siang harinya, AS lebih dulu menembak jatuh empat drone Iran. Drone-drone itu dilaporkan terbang menuju Selat Hormuz, jalur pelayaran vital dunia. Pencegatan drone ini merupakan upaya AS untuk mengamankan salah satu koridor maritim terpenting di dunia.
"Drone-drone penyerang tersebut menimbulkan ancaman langsung terhadap lalu lintas maritim regional," demikian pernyataan Komando Pusat AS di media sosial, menegaskan bahaya yang ditimbulkan oleh aktivitas Iran di perairan internasional.
Militer Kuwait juga mengumumkan bahwa pasukannya berhasil mencegat rudal dan drone yang menyerang negaranya. Sementara itu, Bahrain mengaktifkan sirene serangan udara dan menginstruksikan warganya untuk segera berlindung di lokasi terdekat yang aman serta mengikuti arahan resmi dari pihak berwenang. Situasi darurat ini mencerminkan kekhawatiran serius di antara negara-negara Teluk.
Di sisi lain, Garda Revolusi Iran, melalui kantor berita IRNA yang dikelola pemerintah, menyatakan bahwa mereka menargetkan pangkalan udara Ali Al Salem di Kuwait, yang menjadi markas bagi pasukan AS. Selain itu, mereka juga mengklaim menargetkan Armada ke-5 Angkatan Laut AS yang berlokasi di Bahrain, negara kepulauan kecil di Teluk. Klaim ini menambah daftar target strategis yang disasar Teheran.
Militer AS sendiri saat ini tengah memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Langkah ini diambil sebagai respons atas "cekikan" Teheran terhadap koridor krusial untuk pengiriman minyak dan gas alam global, yaitu Selat Hormuz. Kondisi ini telah menyebabkan lonjakan harga energi secara signifikan, menciptakan masalah politik bagi Partai Republik Presiden Donald Trump menjelang pemilihan kongres paruh waktu.
Komando Pusat AS menjelaskan bahwa serangan mereka terhadap situs radar, termasuk sebuah pulau di selat tersebut, dilakukan "untuk mempertahankan diri dari serangan lebih lanjut." Ini menunjukkan sikap defensif dan responsif AS terhadap setiap provokasi yang datang dari Iran.
Insiden ini menjadi babak terbaru dalam serangkaian serangan balasan yang telah menguji ketahanan gencatan senjata, sekaligus upaya untuk mencapai kesepakatan guna memperpanjang perjanjian tersebut. Sebelumnya pada pekan ini, drone Iran dilaporkan merusak parah terminal penumpang di bandara utama Kuwait, menewaskan satu orang, melukai puluhan lainnya, dan menyebabkan penutupan singkat lapangan udara tersebut. Peristiwa ini menggarisbawahi betapa rapuhnya situasi keamanan di wilayah itu.
Meskipun serangan-serangan ini memunculkan kekhawatiran baru bahwa gencatan senjata bisa runtuh, Presiden Trump justru menyatakan kepada wartawan pada Jumat lalu bahwa "situasi dengan Iran tampaknya berjalan cukup baik." Pernyataan ini menunjukkan pandangan optimis yang kontras dengan realitas di lapangan.
Dalam sebuah acara bersama para petani di Wisconsin, Trump menambahkan, "Kita akan keluar dari Iran dengan sangat cepat dan itu akan menjadi sangat kuat, entah itu dengan secarik kertas (kesepakatan) atau dengan cara yang sangat sulit." Ia melanjutkan, "Cara yang sangat sulit mungkin adalah cara yang lebih mudah, tapi kita akan keluar, dan harga pupuk Anda akan turun drastis, seperti empat bulan lalu." Pernyataannya ini mengaitkan isu geopolitik dengan kepentingan ekonomi domestik.
Trump semakin terlihat terjebak dalam konflik yang kini berada dalam pola penantian. Para negosiator AS dan Iran memang telah mencapai kesepakatan sementara seminggu yang lalu untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari dan memulai babak baru pembicaraan tentang program nuklir Iran. Namun, Trump menuntut perubahan yang tidak spesifik, sementara para pejabat Iran belum menunjukkan tanda-tanda publik akan menyetujui kesepakatan tersebut, memperlambat proses diplomatik.
Ketika ditanya pada hari Jumat mengapa proses ini memakan waktu begitu lama, Trump kepada NBC dalam acara "Meet the Press" mengatakan bahwa hal itu "sangat sulit bagi mereka (Iran)," mengutip "kemerdekaan besar" mereka dan fakta bahwa "mereka kuat, mereka bangga."
"Ada hal-hal yang tidak pernah mereka kira akan mereka lakukan, tetapi mereka harus melakukannya. Mereka tidak punya pilihan, dan itu butuh sedikit waktu," jelas Trump dalam wawancara tersebut, menyiratkan bahwa Iran pada akhirnya akan dipaksa untuk mengalah.
Trump juga menyebutkan bahwa Iran masih memiliki sekitar 21% hingga 22% dari rudal mereka, sebuah angka yang menunjukkan potensi ancaman yang masih ada.
Administrasi Trump juga telah memuji gencatan senjata terbaru yang disepakati pekan ini oleh pemerintah Lebanon dan Israel, menyusul pembicaraan yang dimediasi AS di Washington. Namun, kelompok militan Hizbullah yang didukung Iran telah menolak perjanjian tersebut, dan serangan-serangan baru telah menempatkannya pada risiko lebih lanjut.
Militer Israel pada Jumat lalu menyerang berbagai wilayah di Lebanon selatan dan mengeluarkan peringatan evakuasi untuk sembilan desa, termasuk salah satu yang menampung ribuan orang pengungsi akibat pertempuran. Serangan-serangan tersebut dilaporkan menewaskan sembilan orang di enam lokasi di Lebanon selatan, menurut kantor berita pemerintah Lebanon.
Militer Israel juga mengumumkan bahwa dua tentara mereka terluka, satu di antaranya parah, dalam bentrokan pada hari Jumat dengan militan di Lebanon selatan. Insiden ini menambah daftar panjang kekerasan di perbatasan.
Pertempuran di Lebanon, di mana pasukan Israel telah menguasai sebagian besar wilayah selatan, juga mengancam upaya untuk mengakhiri perang Iran dan membuka kembali Selat Hormuz. Hal ini karena Iran telah menuntut agar setiap gencatan senjata yang langgeng harus mencakup Lebanon, memperumit lagi negosiasi regional.
Selain pencegatan drone di Selat Hormuz, militer AS sebelumnya pada Jumat lalu juga mengatakan bahwa pasukannya telah menaiki sebuah kapal tanker minyak yang disanksi dan terkait dengan Iran di Samudra Hindia. Langkah ini merupakan bagian dari upaya Amerika Serikat untuk mencegah Iran memperoleh keuntungan dari penjualan minyak dan barang-barang lainnya yang disanksi.
AS juga menargetkan sektor energi Iran dengan sanksi baru terhadap sekelompok orang, perusahaan, dan kapal tanker. Tindakan-tindakan ini menunjukkan pendekatan multi-dimensi Washington dalam menekan Teheran, baik secara militer, diplomatik, maupun ekonomi.
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update
Penulis: Beritana Update
Editor: Beritana Editor








