Dilema Peti Mati di Bunia: Antara Layanan Publik dan Risiko Ebola

Krisis kesehatan masyarakat akibat wabah Ebola di Bunia, Republik Demokratik Kongo, telah menciptakan berbagai dilema sosial dan ekonomi yang kompleks. Salah satunya menyangkut peran para pembuat peti mati, yang mendadak berada di garis depan perdebatan mengenai praktik pemakaman yang aman di tengah pandemi mematikan ini.
Sejumlah pengrajin peti mati di Bunia menyatakan bahwa pekerjaan mereka merupakan bentuk pelayanan publik yang esensial, terutama saat angka kematian melonjak. Namun, kehadiran virus Ebola telah menempatkan profesi mereka di pusat polemik seputar prosedur pemakaman yang aman dan sesuai protokol kesehatan.
Kota Bunia, yang terletak di Provinsi Ituri, Kongo timur laut, merupakan salah satu wilayah yang paling parah dilanda wabah Ebola ke-10 di negara tersebut, yang dimulai pada Agustus 2018. Epidemi ini, yang berlangsung lebih dari dua tahun, tercatat sebagai wabah Ebola terbesar kedua dalam sejarah, merenggut ribuan nyawa. Kondisi tidak stabil, konflik bersenjata, dan ketidakpercayaan terhadap otoritas kesehatan semakin memperparah upaya pengendalian virus, menjadikannya tantangan luar biasa bagi komunitas internasional.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan lembaga kesehatan lainnya secara tegas menekankan pentingnya pemakaman yang aman dan bermartabat bagi korban Ebola. Ini krusial untuk mencegah penularan lebih lanjut, sebab jenazah pasien Ebola tetap sangat menular setelah meninggal dunia. Kontak langsung dengan cairan tubuh jenazah dapat dengan mudah menyebarkan virus.
Dalam banyak kebudayaan Afrika, termasuk di Kongo, ritual pemakaman tradisional sering melibatkan sentuhan langsung, pencucian, atau bahkan mencium jenazah oleh anggota keluarga yang berduka. Praktik-praktik ini, yang merupakan ekspresi duka dan penghormatan, sangat berisiko tinggi dalam konteks penularan Ebola. Hal inilah yang memicu ketegangan antara tradisi lokal dan kebutuhan mendesak akan pencegahan penyebaran penyakit.
Para pembuat peti mati di Bunia berada di persimpangan ini. Di satu sisi, mereka menyediakan peti mati yang dibutuhkan untuk menguburkan jenazah, suatu ritual yang dihormati dalam banyak keyakinan, terutama dengan lonjakan angka kematian. Di sisi lain, proses pembuatan dan penyerahan peti mati, serta penggunaannya dalam pemakaman, harus mematuhi standar kebersihan yang ketat untuk menghindari penyebaran virus.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor















