Dilema Uni Eropa dan Vietnam: Antara Kepentingan Ekonomi dan Isu Hak Asasi

Uni Eropa kini tengah mempererat hubungan ekonomi serta diplomatik dengan Vietnam, namun langkah ini memicu kritik keras terkait efektivitas Brussels dalam mendorong perbaikan catatan hak asasi manusia serta standar perburuhan di Hanoi.
Pemimpin Partai Komunis sekaligus Presiden Vietnam, To Lam, tiba di Brussels pada hari Rabu untuk kunjungan resmi. Kehadiran beliau menjadi indikator nyata bahwa jalinan kerja sama kedua pihak terus berkembang pesat.
Kunjungan ini berlangsung tak lama setelah Vietnam menyepakati perjanjian perdagangan bebas dengan Asosiasi Perdagangan Bebas Eropa (EFTA). EFTA merupakan organisasi perdagangan yang beranggotakan Norwegia, Swiss, Islandia, dan Liechtenstein.
Hubungan perdagangan antara Vietnam dan Eropa memang menunjukkan tren penguatan dalam beberapa tahun terakhir. Perjanjian Perdagangan Bebas Uni Eropa-Vietnam (EVFTA) yang mulai berlaku pada Agustus 2020 telah memperluas cakupan komersial Vietnam secara signifikan di negara-negara Eropa.
Khac Giang Nguyen, peneliti di ISEAS–Yusof Ishak Institute di Singapura, menilai kerja sama ini sebagai sebuah langkah yang saling menguntungkan. Vietnam menyediakan basis manufaktur yang mapan bagi Eropa, sementara Eropa memberikan akses modal serta teknologi bagi Hanoi untuk mengurangi ketergantungan pada pasar Amerika dan input industri dari China.
Vietnam kini tercatat sebagai mitra dagang barang terbesar bagi Uni Eropa di Asia Tenggara. Sebaliknya, Uni Eropa menempati posisi mitra dagang terbesar keempat bagi Vietnam serta menjadi sumber investasi asing yang sangat vital bagi pertumbuhan negara tersebut.
Hubungan non-ekonomi kedua belah pihak pun kian meningkat. Pada bulan Januari lalu, kedua pihak meningkatkan status hubungan menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif, sebuah kesepakatan tingkat tinggi pertama antara Uni Eropa dengan negara di Asia Tenggara.
Alfred Gerstl, pakar hubungan internasional Indo-Pasifik dari University of Vienna, menyebut Vietnam sebagai mitra strategis kunci bagi Uni Eropa. Kerja sama ini menjadi instrumen penting bagi Brussels dalam mengamankan agenda ekonomi dan diversifikasi rantai pasok agar tidak bergantung penuh pada China.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)










:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380266/original/038822100_1792663944-000_D3ZC226.jpg)

