
Bitcoin menghadapi tantangan besar untuk mempertahankan tren penguatan di saat imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade.
Data dari lembaga riset Delphi Digital menunjukkan bahwa aset kripto terbesar ini melonjak 43 persen pada kuartal ketiga yang baru saja berlalu. Meskipun demikian, imbal hasil atau yield dari obligasi Pemerintah Amerika Serikat yang melampaui angka 5 persen menciptakan daya tarik baru bagi para investor global.
Obligasi pemerintah AS merupakan instrumen investasi yang dianggap paling aman karena dijamin penuh oleh negara. Saat instrumen tersebut menawarkan keuntungan di atas 5 persen tanpa risiko, aset seperti Bitcoin harus bekerja lebih keras untuk meyakinkan investor agar tidak memindahkan modal mereka. Tekanan ini muncul seiring kebijakan bank sentral AS, Federal Reserve atau The Fed, yang masih mempertahankan suku bunga tinggi untuk meredam laju inflasi.
Delphi Digital mengungkapkan bahwa penguatan Bitcoin saat ini terjadi di tengah hambatan nyata yang berasal dari kenaikan suku bunga pada September lalu. Situasi pasar menjadi semakin rumit karena imbal hasil obligasi tenor panjang terus merangkak naik hingga mencapai titik tertinggi sejak krisis keuangan global.
"Saat obligasi pemerintah memberikan imbal hasil lebih dari 5 persen tanpa risiko, setiap aset berisiko harus memberikan nilai lebih untuk layak mendapatkan investasi," tulis Delphi dalam laporan mingguan terbarunya.
Menariknya, Bitcoin sejauh ini mampu bertahan dari tekanan tersebut berkat tumbuhnya minat pada strategi debasement trade. Strategi ini merupakan langkah investor untuk melindungi nilai kekayaan dari penurunan daya beli mata uang akibat utang pemerintah yang terus membengkak dan ekspansi moneter. Investor mulai mengalihkan perhatian pada aset yang jumlahnya terbatas seperti Bitcoin untuk mengantisipasi penurunan nilai dolar AS dalam jangka panjang.
Vanessa Grellet selaku mitra pengelola di firma modal ventura Arche Capital berpendapat bahwa strategi perlindungan nilai ini tidak memerlukan lingkungan suku bunga rendah untuk tetap berjalan efektif. Menurutnya, fokus investor kini lebih tertuju pada defisit anggaran federal Amerika Serikat dan beban bunga pemerintah yang terus meningkat secara signifikan.
Harga Bitcoin sempat menyentuh angka 87.000 dolar AS (sekitar Rp1,37 miliar) pada pekan lalu sebelum akhirnya mengalami koreksi tipis di pasar spot. Nilai aset digital ini telah meningkat lebih dari 35 persen sejak pertengahan Agustus, tepat setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana pembelian kembali utang jangka panjang untuk mendukung likuiditas pasar. Langkah tersebut mencakup pembelian kembali surat utang negara untuk tenor 10 dan 20 tahun guna menstabilkan biaya pinjaman yang melonjak.
Jumlah pembelian kembali atau buyback utang tersebut bahkan telah meningkat hingga tiga kali lipat sejak pengumuman awal dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat.
Di sisi lain, tekanan terhadap Bitcoin berpotensi mereda setelah data tenaga kerja Amerika Serikat menunjukkan hasil yang lebih rendah dari perkiraan semula. Kondisi pasar tenaga kerja yang mendingin ini memperkecil peluang Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga kembali pada pertemuan bulan Oktober mendatang.
Berdasarkan laporan dari Bureau of Labor Statistics, ekonomi Amerika Serikat hanya menambah 29.000 lapangan kerja pada bulan September kemarin. Angka tersebut berada jauh di bawah proyeksi para analis ekonomi yang memperkirakan penambahan sebanyak 80.000 lapangan kerja baru. Lemahnya data ketenagakerjaan ini memberikan ruang bagi bank sentral untuk menunda kebijakan pengetatan moneter lebih lanjut yang selama ini menekan pasar kripto.
Pejabat Federal Reserve sendiri sebelumnya telah memberikan sinyal bahwa mereka tidak ingin terburu-buru untuk mengambil tindakan drastis dalam waktu dekat. John Williams, Presiden Bank Sentral Federal New York, menegaskan bahwa kebijakan yang diambil pada pertemuan September lalu sudah memberikan dampak yang cukup stabil bagi perekonomian.
"Dengan tindakan kebijakan yang kami ambil pada pertemuan September, tidak ada kebutuhan mendesak untuk kembali menaikkan suku bunga bunga saat ini," ujar Williams dalam pidato resminya.
Berdasarkan data dari CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada bulan Oktober kini merosot hingga ke level 24 persen saja. Angka probabilitas ini turun sangat drastis dibandingkan pekan sebelumnya yang sempat menyentuh angka di atas 75 persen.
Kondisi ekonomi makro Amerika Serikat seringkali menjadi kompas utama bagi pergerakan pasar kripto bagi investor di Indonesia maupun secara global. Ketika imbal hasil obligasi tinggi, investor di dalam negeri cenderung lebih berhati-hati karena penguatan dolar AS biasanya akan menekan nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing. Namun, jika Federal Reserve memutuskan untuk berhenti menaikkan suku bunga, aset kripto bisa mendapatkan momentum baru untuk melanjutkan reli kenaikannya hingga akhir tahun ini.
Para pelaku pasar kini terus memantau pergerakan imbal hasil obligasi tenor 10 tahun sebagai indikator utama stabilitas pasar keuangan dunia. Meskipun Bitcoin tetap menjadi primadona di sektor aset digital, persaingan dengan instrumen pendapatan tetap dari pemerintah AS tetap menjadi faktor penentu arah harga ke depannya.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor