IHSG Diprediksi Lanjut Terkoreksi Akibat Tekanan Kebijakan Moneter Global

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih berada dalam bayang-bayang pelemahan pada perdagangan Selasa, 22 September 2026. Proyeksi ini muncul setelah indeks ditutup melemah 0,88 persen ke level 6.384,73 pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Sentimen negatif yang membayangi pasar modal domestik saat ini dipicu oleh minimnya katalis positif baru. Investor kini memilih bersikap menahan diri sembari menunggu hasil keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia.
Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyatakan bahwa kebijakan moneter global yang cenderung semakin ketat menjadi salah satu beban utama pasar. Menurutnya, langkah sejumlah bank sentral dunia menaikkan suku bunga acuan sebagai respons atas inflasi energi telah memicu kekhawatiran mengenai siklus pengetatan yang lebih panjang ke depan.
Tekanan eksternal tersebut diperparah dengan situasi geopolitik yang memanas di wilayah Eropa Timur dan Timur Tengah. Kondisi ini secara tidak langsung memengaruhi perilaku pelaku pasar domestik dalam menentukan posisi investasinya.
Secara teknikal, Herditya memproyeksikan IHSG masih rawan mengalami koreksi lebih dalam dengan batas support di level 6.370. Ia memberikan estimasi resistance yang berada pada kisaran 6.406 bagi para investor yang mencermati pergerakan indeks hari ini.
Dalam analisisnya, Herditya menyarankan sejumlah emiten untuk dicermati oleh pelaku pasar di tengah fluktuasi indeks saat ini. Beberapa di antaranya meliputi PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), serta PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) dengan target rentang harga spesifik.
Indikator teknikal lain menunjukkan sinyal perlambatan yang cukup signifikan bagi pergerakan indeks ke depan. Histogram negatif pada indikator MACD yang terus melebar, ditambah dengan potensi Death Cross pada Stochastic RSI di area jenuh jual atau oversold, mengindikasikan ruang penurunan IHSG masih cukup terbuka.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, turut memberikan pandangan senada terkait tekanan indikator teknikal tersebut. Meskipun indeks saat ini masih mampu bertahan di atas Moving Average 100, ia menilai IHSG berpotensi menguji rentang area baru jika tekanan jual terus berlanjut.
Arah kebijakan moneter yang akan diputuskan oleh Bank Indonesia dalam RDG menjadi kunci utama pergerakan pasar saham ke depan. Selain keputusan suku bunga, pelaku pasar akan mencermati respons nilai tukar rupiah sebagai salah satu indikator stabilitas ekonomi domestik di tengah ketidakpastian arus modal asing.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor














