
Pemilihan Presiden Bulgaria yang akan berlangsung pada 25 Oktober kini berada di bawah bayang-bayang ketegangan geopolitik menyusul serangkaian serangan pesawat nirawak di Laut Hitam.
Isu keamanan dan sikap pemerintah terhadap konflik di Ukraina telah mengubah arah kampanye, memaksa kandidat untuk mengambil posisi yang lebih tegas di tengah kekhawatiran publik yang meluas.
Bulgaria saat ini tengah bersiap memilih sosok pemimpin baru yang akan memegang mandat sebagai panglima tertinggi angkatan bersenjata dan perwakilan negara di kancah internasional. Meskipun jabatan presiden di negara ini cenderung bersifat seremonial, pemilu kali ini dipandang sebagai ujian besar bagi pemerintahan Presiden Rumen Radev yang baru saja mengamankan mayoritas parlemen.
Persaingan utama mengerucut pada pertarungan antara petahana Iliana Yotova yang didukung pemerintah, serta tokoh oposisi Andrey Gyurov. Nama terakhir menyoroti potensi pergeseran kekuasaan menuju otokrasi yang ia nilai membahayakan demokrasi Bulgaria.
Kondisi keamanan di Laut Hitam menjadi titik balik perdebatan publik setelah serangan terhadap kapal-kapal komersial terjadi berulang kali. Pemerintah Bulgaria sempat menuai kritik keras karena dianggap tidak menunjukkan posisi yang jelas terkait pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Iliana Yotova dalam orasinya berulang kali menekankan bahwa ia tidak akan mengirim satu pun tentara Bulgaria ke wilayah Ukraina jika terpilih kembali. Sikap ini ia ambil di tengah upaya menjaga stabilitas domestik, meski parlemen sebenarnya telah memastikan bahwa militer Bulgaria tidak akan terlibat dalam permusuhan di Ukraina melalui deklarasi tahun 2025.
Para pengamat politik mencatat bahwa ambiguitas sikap pemerintah kini mulai memengaruhi elektabilitas kandidat petahana. Boriana Dimitrova dari lembaga riset Alpha Research menyebutkan bahwa meski Yotova masih memimpin, celah elektoralnya mulai menyempit secara signifikan dalam beberapa pekan terakhir.
Di jalanan Sofia, gelombang protes dari warga yang menuntut kebijakan luar negeri lebih tegas terus bermunculan sebagai bentuk kekecewaan terhadap pemerintah. Mereka menilai bahwa respons yang pasif terhadap insiden di Laut Hitam adalah pemicu utama keraguan publik menjelang hari pemungutan suara.
Ketidakpastian ini semakin diperumit dengan posisi partai-partai besar seperti GERB yang memilih tidak mencalonkan kandidat dalam pilpres ini. Suara dari basis pendukung partai tersebut diperkirakan akan menjadi penentu dalam putaran kedua nanti, terutama bagi para pemilih yang cenderung berseberangan dengan Partai Sosialis Bulgaria.
Pada akhirnya, pemilihan ini bukan sekadar pergantian jabatan seremonial, melainkan barometer bagi kepercayaan publik terhadap koalisi yang sedang berkuasa. Situasi yang tenang di masa damai kini berganti dengan tuntutan akan kepemimpinan yang berani mengambil sikap di tengah turbulensi kawasan yang semakin nyata.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor