Saat diluncurkan ke publik pada Februari 2024, nilai total aset yang terkunci atau total value locked mencapai USD 2,3 miliar (Rp36 triliun). Namun, ketidakstabilan segera melanda jaringan tersebut.
Perjalanan Blast mulai terhambat setelah pemutakhiran Dencun pada Maret 2024 yang menyebabkan jaringan sempat berhenti memproduksi blok. Ketidakpuasan pengguna semakin meningkat ketika distribusi token BLAST pada Juni 2024 tidak memenuhi ekspektasi banyak pihak, yang memicu penurunan nilai aset secara konsisten.
Fenomena penutupan layanan ini bukan hal asing di ekosistem kripto saat ini. Sebelumnya, Zerion telah menutup Zero Network, sebuah jaringan layer-2 tanpa biaya gas, setelah beroperasi selama 18 bulan.
Selain itu, Silicon Network yang berafiliasi dengan bursa kripto asal Korea Selatan, Korbit, juga telah menghentikan penerimaan setoran sejak awal September. Mereka memberikan waktu bagi pengguna untuk menarik dana hingga akhir tahun ini.
Tren penutupan ini sejalan dengan konsolidasi yang terjadi di industri aset kripto global. Berbagai platform bursa seperti CoinEx, BitMEX, dan BitMart telah melaporkan penghentian layanan atau penutupan operasi sepanjang tahun 2024, mencerminkan persaingan ketat dalam menjaga keberlanjutan bisnis di sektor teknologi finansial yang volatil.