Kapasitas Pusat Data Indonesia Diproyeksikan Melonjak Jadi 11 GW pada 2030

Kapasitas pusat data di Indonesia diperkirakan mencapai 11 gigawatt (GW) pada tahun 2030, sebuah lonjakan signifikan yang didorong oleh pesatnya pengembangan kecerdasan buatan (AI). Proyeksi ini disampaikan oleh Ketua Umum Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO), Hendra Suryakusuma, pada Kamis (3/9).
Angka 11 GW tersebut mencerminkan peningkatan drastis dari kapasitas terpasang per Mei 2026 yang baru mencapai 630 megawatt (MW). Investasi masif dibutuhkan untuk merealisasikan pembangunan infrastruktur vital ini dalam waktu kurang dari satu dekade.
Hendra menjelaskan, kebutuhan investasi untuk membangun setiap 1 MW kapasitas pusat data mencapai sekitar US$10 juta.
Angka ini hanya mencakup elemen inti seperti struktur bangunan utama, sistem mekanis, serta kelistrikan. Biaya tersebut belum termasuk pengadaan lahan maupun biaya operasional yang harus dikeluarkan secara berkelanjutan.
Pertumbuhan kapasitas dalam waktu dekat akan ditopang oleh berbagai proyek yang kini dalam tahap konstruksi, energisasi, dan komisioning. Namun, pencapaian target ambisius ini sangat bergantung pada kesiapan pasokan listrik nasional yang memadai, serta kemampuan penyerapan kapasitas oleh para pelanggan, mulai dari perusahaan rintisan hingga korporasi besar.
Sejumlah pemain kunci di sektor teknologi dan infrastruktur telah merencanakan ekspansi besar fasilitas pusat data mereka di berbagai wilayah Indonesia.
DCI Indonesia, salah satu pemain utama, merencanakan peningkatan kapasitas terpasang dari 128 MW pada tahun 2025 menjadi lebih dari 850 MW dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun ke depan.
Di sisi lain, kolaborasi strategis juga membentuk lanskap baru. Indosat bersama Ooredoo Group, Nokia, dan Nvidia, berencana membangun 'pabrik AI' dengan kapasitas awal 200 MW di Batang, Jawa Tengah, pada semester pertama 2027.
Fasilitas komputasi AI yang diberi nama Zankore tersebut ditargetkan untuk berkembang hingga kapasitas 1 GW pada tahun 2029. Ini menandai komitmen serius terhadap infrastruktur AI di Indonesia.
Ekspansi serupa juga dilakukan oleh Firmus Technologies Pty. Ltd. bekerja sama dengan DayOne. Mereka akan membangun Nvidia DSX AI Factory berkapasitas 360 MW di Batam.
Proyek hasil kerja sama dengan Nvidia ini diproyeksikan mulai beroperasi pada kuartal pertama tahun 2027. Selanjutnya, CoreWeave Inc. juga berencana membangun tiga pusat data baru dengan total kapasitas 360 MW hingga tahun 2028.
Ketersediaan pasokan listrik yang stabil dan berlimpah menjadi faktor krusial bagi keberlanjutan pertumbuhan ini. Pusat data berskala besar memerlukan daya listrik konstan dengan cadangan yang memadai untuk memastikan operasional tanpa henti, terutama untuk mendukung beban kerja AI yang intensif.
Dorongan investasi pada kapasitas pusat data mencerminkan posisi strategis Indonesia dalam ekonomi digital regional. Dengan dukungan infrastruktur komputasi yang kuat, Indonesia berpotensi menjadi hub penting bagi inovasi kecerdasan buatan dan layanan berbasis data di Asia Tenggara.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor








