JAPFA dan LPER Perkuat Kemitraan Budidaya Ayam Broiler di Gunungkidul

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk bekerjasama dengan Koperasi Produsen Usaha Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Rakyat memperkuat program budidaya ayam broiler di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kerja sama lintas sektor ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas produksi serta kemandirian ekonomi peternak rakyat di wilayah tersebut melalui integrasi hulu ke hilir.
Kolaborasi strategis tersebut kini telah mencatatkan pencapaian produksi hingga satu juta ekor ayam broiler.
Dalam skema kemitraan ini, JAPFA bertanggung jawab menyediakan anak ayam berumur sehari atau day old chick berkualitas tinggi beserta pendampingan teknis secara berkala. Perusahaan juga bertindak sebagai penyerap hasil panen melalui fasilitas Rumah Potong Hewan Unggas yang mereka operasikan. Pendekatan hulu hilir tersebut diharapkan mampu meminimalkan risiko kerugian yang kerap dihadapi peternak akibat fluktuasi harga pasar.
Direktur JAPFA Rachmat Indrajaya menjelaskan bahwa penguatan kemitraan ini diarahkan untuk menciptakan sistem insentif yang transparan dan berbasis pada kinerja riil peternak. "Kami berharap penguatan kerjasama ini menjadi langkah nyata dalam mendukung kedaulatan pangan dan menjadikan peternak rakyat sebagai rekanan pangan yang mandiri secara ekonomi," ujar Rachmat.
Langkah korporasi ini sejalan dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 10 Tahun 2024 tentang kemitraan usaha peternakan.
Kementerian Pertanian terus mendorong pelaku industri skala besar untuk merangkul peternak mandiri dalam ekosistem yang terintegrasi. Hal ini bertujuan mengatasi kendala klasik peternakan rakyat, seperti tingginya biaya pakan dan terbatasnya akses pasar. Integrasi seperti ini dinilai dapat menjaga stabilitas pasokan protein hewani nasional secara berkelanjutan.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Agung Suganda menyatakan dukungan penuhnya terhadap model kolaborasi yang memperkuat posisi tawar peternak lokal. Menurut Agung, produktivitas peternak akan meningkat pesat ketika mereka mendapatkan kepastian sarana produksi, pendampingan teknis, dan jaminan pasar yang jelas.
"Yang kita bangun bukan hanya usaha peternakan, tetapi ekosistem pangan yang mampu menjaga pasokan protein hewani sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak," kata Agung.
Gunungkidul sendiri memiliki potensi wilayah yang luas untuk pengembangan sektor peternakan, namun sering kali terkendala infrastruktur distribusi. Kemitraan dengan swasta menjadi alternatif solusi untuk memotong rantai pasok yang panjang dan tidak efisien. Pemerintah kabupaten setempat menyambut baik inisiatif ini sebagai stimulus ekonomi bagi masyarakat pedesaan.
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih mengapresiasi sinergi antara pihak swasta dan koperasi yang membantu mengamankan ketahanan pangan di daerahnya. Ia menilai pembinaan teknis sangat membantu peternak kecil untuk meningkatkan skala usaha mereka secara bertahap.
"Dengan adanya bimbingan teknis dan akses pasar, kami berharap para peternak di Gunungkidul dapat memiliki usaha yang lebih stabil dan skala yang terus bertumbuh," tutur Endah.
Koperasi LPER selaku perwakilan peternak berkomitmen mengawal jalannya kemitraan agar tetap memberikan keuntungan yang adil bagi anggotanya. Organisasi ini berencana membawa model bisnis serupa ke wilayah lain di luar Yogyakarta. Langkah replikasi dinilai realistis mengingat struktur keanggotaan koperasi yang tersebar luas.
Ketua Koperasi LPER Mulyadi Atma menyatakan harapannya agar pola kemitraan ini dapat diterapkan di 17 provinsi yang menjadi basis keanggotaan mereka. Mulyadi menginginkan kolaborasi ini berjalan lancar sehingga menciptakan nilai tambah yang optimal bagi semua pihak yang terlibat.
Tantangan industri perunggasan nasional ke depan masih berkutat pada volatilitas harga bahan baku pakan impor seperti jagung dan kedelai. Melalui kemitraan yang terstruktur, peternak mandiri mendapatkan perlindungan dari fluktuasi biaya produksi tersebut karena adanya kontrak harga yang disepakati sejak awal. Model ini sekaligus memberikan kepastian pasokan bagi industri hilir di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor












