Ketangguhan Perajin Kaca Damaskus di Tengah Keterpurukan Ekonomi Suriah

Dunia jurnalisme sering kali menuntut kecepatan yang melelahkan dalam menyajikan informasi dari berbagai belahan dunia setiap harinya.
Di sela hiruk-pikuk peliputan, saya sempat menemui seorang perajin kaca di kawasan pinggiran Kota Tua Damaskus yang menawarkan perspektif berbeda. Ia bekerja dengan tenang di depan tungku pembakaran bersuhu ekstrem, seolah waktu tidak lagi menjadi penentu dalam hidupnya.
Dalam cuaca musim panas yang mencapai lebih dari 37 derajat Celcius, sang perajin dengan sabar membentuk gelas demi gelas. Suhu panas yang menyengat dari tungku perapian di hadapannya seakan tidak memengaruhi ritme kerja tangannya yang terampil.
Ia memproduksi cangkir, wadah minyak, hingga lampu dekoratif dengan beragam warna layaknya permata. Teknik yang digunakannya tetap bertahan selama puluhan tahun, menolak untuk tunduk pada modernisasi yang serba instan.
Proses mencairkan dan menarik kaca panas membutuhkan ketelitian tinggi. Momen melihat karyanya terbentuk perlahan mengingatkan saya akan pentingnya menikmati setiap detik kehidupan di tengah laju dunia yang kian tidak menentu.
Namun, suasana tenang di bengkel kerjanya berbanding terbalik dengan kondisi ekonomi Suriah yang sedang lesu. Toko perajin tersebut terlihat sepi pembeli meski lokasinya berada di jalur yang sangat strategis.
Negara ini sebenarnya telah melewati fase perang saudara yang berlangsung selama hampir 14 tahun. Konflik panjang tersebut meninggalkan luka dalam pada infrastruktur dan stabilitas sosial masyarakat setempat.
Masalah ekonomi saat ini menjadi tantangan baru yang tidak kalah berat bagi warga Suriah. Tingkat inflasi yang melonjak tinggi dalam setahun terakhir membuat harga kebutuhan pokok meroket tajam.
Dampak dari krisis ini pun sangat nyata dirasakan oleh rakyat kecil. Bagi banyak orang di sana, sebuah gelas kaca buatan tangan kini dianggap sebagai barang mewah yang sulit untuk dijangkau.
Kondisi ini mencerminkan betapa sulitnya menjaga warisan budaya di tengah himpitan ekonomi yang mencekik. Keterampilan yang diwariskan turun-temurun kini harus berjuang untuk bertahan di pasar yang sedang tidak bergairah.
Saya melihat ketabahan yang luar biasa dari perajin tersebut saat ia terus membentuk kaca demi kaca. Ia tetap bekerja meski pembeli jarang datang melirik dagangannya.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik megahnya situs bersejarah Damaskus, terdapat perjuangan warga yang terus bertahan hidup. Mereka tetap menjaga harapan di tengah kondisi ekonomi yang belum juga menunjukkan tanda pemulihan signifikan.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor












