Harry Istepanian, pakar energi dari Iraq Climate Change Center, menyatakan bahwa masyarakat sebelumnya lebih memilih generator karena dianggap lebih fleksibel dan minim investasi awal. Namun, lonjakan biaya operasional generator dan kelangkaan bahan bakar diesel kini mengubah cara pandang warga Irak secara perlahan.
Data dari media khusus energi, Attaqa, menunjukkan bahwa impor panel surya dari China ke Irak melonjak tajam dari 0,43 gigawatt pada 2024 menjadi 1,89 gigawatt di tahun 2025. Angka ini menempatkan Irak sebagai negara Arab dengan pertumbuhan impor panel surya tercepat saat ini.
Pemerintah Irak juga telah mengambil langkah proaktif dengan menurunkan bea masuk komponen panel surya dari 33 persen menjadi 5 persen. Kebijakan ini didukung pula dengan skema pinjaman berbunga rendah dari bank sentral untuk membantu warga dan pelaku bisnis skala kecil.
Meski demikian, pakar energi dari George Mason University, Umud Shokri, menekankan bahwa tenaga surya hanyalah satu bagian dari solusi. Ia menyebut krisis listrik Irak bersifat struktural sehingga memerlukan reformasi jaringan, perbaikan tata kelola gas, serta investasi pada infrastruktur transmisi secara menyeluruh.