Langsung ke konten
beritana

Iran Krisis Listrik, Warga Irak Beralih ke Tenaga Surya

Foto Beritana UpdateBeritana Update2 menit bacaWorld
As hot summer, blackouts loom, Iraq looks to solar power
Despite huge amounts of sunshine, Iraq only opened its first industrial solar power plant in Karbala in late 2025Image: Anmar Khalil/AP Photo/picture alliance

Irak kini mulai melirik tenaga surya sebagai solusi di tengah krisis listrik tahunan yang kian memburuk setiap musim panas. Pemerintah setempat berupaya mengejar ketertinggalan teknologi energi terbarukan di tengah tantangan pasokan energi nasional.

Hiba al-Amiri, seorang guru yang menetap di Baghdad, baru saja mempertimbangkan pemasangan panel surya di kediamannya. Keputusan tersebut diambil setelah pasokan gas dari Iran terhenti akibat ketegangan geopolitik yang memicu pemadaman listrik total selama empat hari.

Irak sangat bergantung pada pasokan gas dari Iran yang mencakup hingga 40 persen kebutuhan pembangkit listrik negara tersebut. Ketergantungan ini membuat jaringan listrik nasional tidak mampu menahan beban saat suhu udara melonjak drastis setiap musim panas.

Biaya pemasangan panel surya untuk hunian pribadi di Irak berkisar antara 5 juta hingga 10 juta dinar Irak atau setara dengan Rp60 juta hingga Rp120 juta. Harga ini menjadi tantangan besar bagi rumah tangga yang biasanya terbiasa membayar biaya sewa generator listrik bulanan.

Harry Istepanian, pakar energi dari Iraq Climate Change Center, menyatakan bahwa masyarakat sebelumnya lebih memilih generator karena dianggap lebih fleksibel dan minim investasi awal. Namun, lonjakan biaya operasional generator dan kelangkaan bahan bakar diesel kini mengubah cara pandang warga Irak secara perlahan.

Data dari media khusus energi, Attaqa, menunjukkan bahwa impor panel surya dari China ke Irak melonjak tajam dari 0,43 gigawatt pada 2024 menjadi 1,89 gigawatt di tahun 2025. Angka ini menempatkan Irak sebagai negara Arab dengan pertumbuhan impor panel surya tercepat saat ini.

Pemerintah Irak juga telah mengambil langkah proaktif dengan menurunkan bea masuk komponen panel surya dari 33 persen menjadi 5 persen. Kebijakan ini didukung pula dengan skema pinjaman berbunga rendah dari bank sentral untuk membantu warga dan pelaku bisnis skala kecil.

Meski demikian, pakar energi dari George Mason University, Umud Shokri, menekankan bahwa tenaga surya hanyalah satu bagian dari solusi. Ia menyebut krisis listrik Irak bersifat struktural sehingga memerlukan reformasi jaringan, perbaikan tata kelola gas, serta investasi pada infrastruktur transmisi secara menyeluruh.

Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update