Pelatih Persebaya Minta Bonek Redam Ekspektasi Juara demi Mental Pemain

Pelatih Persebaya Surabaya, Bernardo Tavares, mengimbau seluruh suporter untuk meredam ekspektasi berlebih demi menjaga kondisi mental dan fokus bertanding para pemain. Tuntutan tinggi dari pendukung, terutama target instan untuk langsung menjuarai kompetisi, dinilai berpotensi menjadi beban psikologis yang kontraproduktif bagi tim.
"Banyak Bonek dan Bonita menemui saya dan berkata, 'Juara coach, kita harus menang, kita wajib juara'," ujar Bernardo Tavares saat menceritakan interaksinya dengan pendukung fanatik klub asal Surabaya tersebut.
Juru taktik berusia 46 tahun itu menegaskan bahwa fokus utama tim saat ini adalah memenangi setiap pertandingan yang ada di depan mata secara bertahap. Menurut dia, membangun konsistensi jauh lebih realistis daripada terus memikirkan trofi juara sejak awal musim bergulir. Ambisi besar tanpa ditopang kesiapan mental pemain di lapangan sering kali justru merusak skema permainan yang telah dipersiapkan.
Tavares kemudian membandingkan atmosfer turnamen pramusim Piala Presiden yang baru saja dimenangi oleh pasukannya dengan dinamika kompetisi resmi liga. Walaupun keberhasilan mengamankan trofi pramusim itu menorehkan sejarah baru bagi klub, ia mengingatkan bahwa tantangan di liga berjalan jauh lebih berat dan menuntut konsistensi tinggi sepanjang musim.
"Kita menjuarai Piala Presiden, semua orang senang, dan itu turnamen yang bagus karena Persebaya belum pernah menjuarainya sebelum ini, tetapi sekarang situasinya berbeda," ucapnya menegaskan perbedaan tingkat kesulitan kompetisi.
Fakta sejarah menunjukkan bahwa tim berjuluk Bajul Ijo ini sudah absen mengangkat trofi kasta tertinggi sepak bola nasional selama 22 tahun. Kerinduan mendalam dari para suporter sangat dipahami oleh jajaran kepelatihan, namun desakan yang kurang tepat justru dapat mematikan potensi pemain muda. Tavares menggarisbawahi bahwa tugas utamanya saat ini adalah meramu komposisi skuad terbaik untuk menghadapi setiap laga terdekat.
Tekanan publik Surabaya memang terbukti sangat besar, terlihat dari antusiasme luar biasa saat laga pembuka Grup B Piala Presiden melawan Persija Jakarta di Stadion Gelora Bung Tomo. Sebanyak 34.878 penonton memadati stadion berkapasitas besar tersebut, menciptakan atmosfer pertandingan yang sangat masif sekaligus menguji mental bertanding pemain.
Dukungan melimpah ini bagaikan pisau bermata dua yang bisa memicu motivasi tinggi atau justru melahirkan kecemasan berlebih di lapangan.
Selain faktor mental, Tavares juga menyoroti realitas finansial yang dihadapi Persebaya dibandingkan dengan para pesaing utama di papan atas. Klub seperti Persib Bandung, Persija Jakarta, Dewa United, hingga Bali United memiliki kemampuan finansial yang lebih besar untuk mendatangkan jajaran pemain bintang berkualitas tinggi. Perbedaan kedalaman skuad ini menuntut timnya bekerja ekstra keras dan mengandalkan kolektivitas permainan di atas lapangan.
Oleh karena itu, kehadiran suporter diharapkan mampu menjadi pendorong moril yang positif, terutama ketika tim sedang berada dalam fase sulit atau mengalami penurunan performa. Kehadiran fisik di stadion idealnya diiringi dengan kesabaran untuk mengawal proses perkembangan tim yang sedang dibangun.
"Jika ingin membantu, berikan dukungan terutama saat pemain tampil kurang maksimal di lapangan," kata Tavares meminta empati dari para pendukung setia.
Ia mengingatkan kembali bahwa para pesepak bola profesional tetaplah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan dan membutuhkan dorongan moral yang positif. Kesetiaan suporter saat mendampingi tim berjuang melewati masa sulit dinilai jauh lebih berharga daripada sekadar ikut merayakan kemenangan di akhir musim. Komitmen tanpa syarat inilah yang diharapkan mampu menjaga stabilitas internal tim sepanjang mengarungi kompetisi yang panjang dan melelahkan.
"Bonek dan Bonita harus terus bernyanyi memberi semangat ketika tim mengalami kekalahan," tutur pelatih berkebangsaan Portugal tersebut untuk menutup pernyataannya.
Baca juga tulisan lainnya dari Rizky Pratama
Penulis: Rizky Pratama
Editor: Beritana Editor













