Pemerintah China Larang Produsen Mobil Listrik Lakukan Perang Harga Ekspor

Kementerian Perdagangan China bersama Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi serta regulator pasar menerbitkan panduan kebijakan baru pada 1 September untuk menghentikan persaingan harga yang tidak sehat di industri mobil listrik nasional.
Instruksi ini diterbitkan guna menjaga keberlangsungan pertumbuhan sektor otomotif domestik sekaligus melindungi stabilitas harga di pasar ekspor.
Dokumen yang memuat 20 poin aturan tersebut secara spesifik melarang praktik pemotongan harga ekstrem yang selama ini dinilai menekan margin keuntungan perusahaan di dalam negeri.
Pemerintah menyoroti kekhawatiran bahwa pola kompetisi agresif tersebut akan merembet ke pasar internasional, padahal ekspor saat ini menjadi pilar utama pertumbuhan industri kendaraan listrik China.
Produsen kini diwajibkan menetapkan harga jual berdasarkan kalkulasi biaya produksi yang rasional dan kondisi pasar riil. Mereka dilarang keras melakukan penyesuaian harga secara drastis atau mendadak yang berpotensi merugikan konsumen maupun merusak reputasi merek di mata publik internasional.
Pabrikan juga diminta menghormati otoritas dealer lokal dalam menetapkan harga serta diwajibkan menyampaikan informasi pemasaran yang jujur. Kepatuhan terhadap hukum antimonopoli dan antikorupsi kini menjadi standar mutlak bagi seluruh pelaku industri di sektor ini.
Langkah pengendalian ini diambil menyusul lonjakan ekspor kendaraan listrik China yang mencapai 8,32 juta unit ke lebih dari 200 negara sepanjang 2025. Skala ekspansi yang sangat masif ini kerap memicu penyelidikan di sejumlah negara, termasuk kasus pemeriksaan diler BYD di Thailand pada 2024 terkait keluhan konsumen akan pemotongan harga yang tidak wajar.
Di sisi lain, kondisi pasar domestik China tengah tertekan akibat perang harga berkepanjangan yang menurunkan daya beli masyarakat. Data menunjukkan distribusi kendaraan listrik pada paruh pertama 2026 merosot hingga 13 persen secara tahunan karena konsumen memilih menunda pembelian sembari menunggu diskon yang lebih besar.
Proyeksi suram pun membayangi masa depan banyak pemain di sektor ini. Lembaga konsultan AlixPartners memperkirakan hanya tujuh dari sekitar 30 merek kendaraan listrik di China yang diprediksi mampu mencatatkan keuntungan pada 2030 mendatang.
Meski regulasi telah diterbitkan secara resmi, pihak otoritas belum merincikan mekanisme sanksi bagi perusahaan yang melanggar ketentuan tersebut. Ketidakjelasan penegakan hukum ini masih menjadi tanda tanya besar bagi para pelaku pasar yang terbiasa dengan kompetisi bebas selama beberapa tahun terakhir.
Peningkatan manajemen keselamatan di fasilitas produksi luar negeri juga masuk dalam cakupan aturan baru ini. Hal ini mencerminkan upaya pemerintah China untuk mengintegrasikan standar operasional yang lebih ketat seiring dengan semakin luasnya jangkauan pasar ekspor mereka di kancah global.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor











