Perubahan Iklim dan Ketahanan Pangan: Risiko Konflik Global Kian Meningkat

Dunia menghadapi tekanan serius pada sistem pangan global, didorong oleh perubahan iklim, konflik, dan ketegangan perdagangan yang kian memanas. Riset terbaru mengindikasikan bahwa risiko terbesar bukan sekadar kekurangan pangan, melainkan sejauh mana masyarakat dapat beradaptasi secara damai terhadap perubahan tersebut.
Kekeringan parah dan cuaca ekstrem telah merusak panen di banyak wilayah, menambah beban pada sistem pangan dunia. Fenomena El Niño yang sedang berkembang bahkan berpotensi memperburuk kekurangan pangan bagi jutaan orang pada tahun depan, termasuk di beberapa bagian Indonesia yang sangat bergantung pada musim hujan yang stabil.
Bersamaan dengan itu, perang dan ketegangan geopolitik secara signifikan mengganggu rantai pasok yang menjaga pergerakan makanan serta pasokan pertanian. Konflik di Ukraina, misalnya, telah berulang kali mengguncang pasar gandum global.
Dampak perang terhadap Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis di Timur Tengah yang penting untuk lalu lintas minyak, juga telah mendorong kenaikan harga bahan bakar dan pupuk. Ini meningkatkan biaya produksi bagi petani di seluruh dunia.
Para ahli telah lama memperingatkan bahwa meningkatnya ketidakamanan pangan dapat memicu instabilitas. Ketika masyarakat kesulitan menyediakan makanan untuk keluarga mereka, seringkali terjadi perselisihan atas lahan, air, dan sumber daya lainnya, atau bahkan memicu migrasi paksa.
Di negara-negara yang rapuh, tekanan-tekanan ini dapat berkontribusi pada kerusuhan sosial dan bahkan konflik bersenjata yang meluas. Situasi ini menciptakan lingkaran setan yang sulit diputus.
Riset terbaru kini menunjukkan wilayah-wilayah di mana risiko-risiko ini paling besar. Indeks Penurunan Pertanian Akibat Iklim (Climate-Driven Agricultural Decline Index/CADI), yang dikembangkan oleh Laura Mayoral, Hannes Mueller, dan rekan-rekannya, memetakan bagaimana perubahan iklim membentuk kembali produktivitas pertanian di seluruh dunia.
“Kerugian terbesar berada di wilayah tropis,” kata Mueller, seorang peneliti di Institute for Economic Analysis dan Barcelona School of Economics. Pernyataan ini relevan bagi negara-negara tropis seperti Indonesia.








