Produk UMKM Kuasai 60 Persen Pasar Ritel Modern Indonesia Melalui Kemitraan

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan bahwa produk usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM kini telah mengisi lebih dari 60 persen pangsa pasar di berbagai gerai ritel modern di Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Budi saat membuka agenda pelatihan bagi pelaku usaha di Auditorium Kementerian Perdagangan, Jakarta, Rabu (9/9/2026). Ia menekankan bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari pergeseran kebijakan pemerintah dari sistem kewajiban kuota menjadi pola kemitraan yang lebih luwes.
Sebelumnya, pemerintah sempat menerapkan aturan yang mewajibkan ritel modern untuk menyediakan minimal 30 persen ruang bagi produk lokal. Namun, kebijakan tersebut memicu keberatan dari pihak internasional yang menilai aturan tersebut bersifat diskriminatif terhadap produk asing.
Pemerintah kemudian melakukan evaluasi dengan mengganti sistem kuota kaku tersebut menggunakan mekanisme kemitraan antara peritel besar dan pelaku usaha kecil. Budi menilai pendekatan baru ini terbukti jauh lebih efektif dalam mendongkrak daya saing barang produksi domestik di pasar modern.
Peningkatan penetrasi produk lokal tersebut juga didukung oleh kolaborasi strategis antara pemerintah dengan asosiasi terkait seperti Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia serta Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia. Melalui kemitraan ini, produk UMKM kini lebih mudah ditemukan di berbagai pusat perbelanjaan dan toko ritel berskala besar di tanah air.
Meski akses pasar telah terbuka lebar, Budi mengingatkan bahwa kemampuan produksi saja belum menjamin keberlangsungan bisnis bagi pelaku UMKM. Kemampuan pemasaran yang mumpuni tetap menjadi instrumen utama agar produk lokal mampu bertahan dan terus tumbuh di pasar domestik maupun mancanegara.
Guna memperkuat kemampuan tersebut, Kementerian Perdagangan turut menggandeng pihak swasta seperti META untuk memberikan pelatihan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau AI. Program ini dirancang untuk membekali pelaku usaha dengan strategi pemasaran digital yang lebih tajam dan efisien.
Penggunaan kecerdasan buatan dinilai mampu mempermudah pelaku usaha untuk melakukan analisis tren pasar dan menjangkau konsumen secara lebih luas. Fokus pelatihan tidak hanya terbatas pada upaya penetrasi ekspor, namun juga untuk mengoptimalkan potensi pasar domestik yang masih sangat besar.
Budi menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen untuk terus memfasilitasi integrasi teknologi digital bagi pelaku bisnis skala kecil. Upaya ini mencakup penyediaan pendampingan agar produk lokal tidak hanya sekadar eksis di pasar, tetapi juga mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri sekaligus berdaya saing global.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor














