
Sanksi ekonomi yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap Iran kini berdampak langsung pada sektor pendidikan tinggi di negara tersebut.
Ribuan pelajar Iran yang berencana melanjutkan pendidikan ke luar negeri kehilangan akses untuk mengikuti ujian kecakapan bahasa Inggris serta tes masuk pascasarjana. Pembatalan ujian ini terjadi karena kebijakan restriksi keuangan yang memutus akses penyedia layanan tes internasional ke pasar Iran.
Ujian seperti TOEFL dan IELTS seringkali menjadi syarat mutlak bagi universitas di berbagai negara untuk menerima mahasiswa internasional. Ketidakmampuan mengikuti tes ini secara tidak langsung menutup pintu bagi para pemuda Iran yang ingin membangun karier akademis di luar negeri.
Situasi ini menciptakan isolasi bagi generasi muda Iran yang memiliki antusiasme tinggi untuk terlibat dalam pertukaran budaya dan keilmuan global. Mereka terjebak di tengah ketegangan geopolitik yang membatasi mobilitas intelektual antarnegara.
Banyak calon mahasiswa kini harus menempuh perjalanan jauh ke negara tetangga seperti Turki atau Uni Emirat Arab hanya untuk mengikuti satu sesi ujian. Biaya perjalanan dan akomodasi selama berada di luar negeri menambah beban finansial yang sangat besar bagi keluarga mereka.
Sebagai perbandingan, pengeluaran untuk satu kali perjalanan ke luar negeri demi mengikuti ujian bisa mencapai USD 1.000 atau sekitar Rp15,7 juta. Angka ini setara dengan pendapatan rata-rata rumah tangga di Iran selama beberapa bulan, mengingat inflasi tinggi yang sedang melanda negara tersebut.
Sistem ujian internasional umumnya mengandalkan pembayaran digital melalui platform keuangan global yang saat ini terblokir di Iran akibat sanksi. Tanpa adanya jembatan pembayaran, lembaga penyelenggara tes tidak bisa memproses pendaftaran dari calon peserta yang berdomisili di dalam negeri.
Kondisi ini menyulitkan mahasiswa yang sebenarnya memiliki kualifikasi akademik mumpuni namun terhalang kendala administrasi. Mereka kehilangan kesempatan untuk memperebutkan beasiswa bergengsi di universitas-universitas besar dunia.
Dampak jangka panjang dari pembatasan ini adalah penurunan jumlah ilmuwan dan tenaga ahli Iran yang mendapatkan pendidikan dengan standar internasional. Hal ini dikhawatirkan akan memperlemah kualitas sumber daya manusia negara tersebut di masa depan.
Para aktivis pendidikan dan kelompok hak asasi manusia telah menyuarakan kekhawatiran mengenai terpinggirkannya generasi muda dari ekosistem pendidikan dunia. Mereka mendesak agar ada pengecualian kemanusiaan bagi layanan pendidikan agar tetap bisa diakses meskipun dalam situasi sanksi.
Hingga saat ini, belum ada solusi konkret yang ditawarkan oleh pihak terkait untuk memfasilitasi kebutuhan ujian tersebut secara daring atau melalui jalur alternatif. Mahasiswa Iran hanya bisa berharap bahwa kebijakan diplomatik ke depan akan lebih mempertimbangkan nasib akses pendidikan bagi mereka yang ingin berkembang di kancah internasional.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor
