IHSG Menguat ke Rp 2 Triliun Didorong Sektor Transportasi dan Energi

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG mencatatkan kinerja positif dengan mencetak nilai transaksi mencapai Rp 2 triliun pada perdagangan hari ini.
Penguatan pasar modal domestik tersebut didukung oleh tingginya volume perdagangan yang menyentuh angka 5,5 miliar lembar saham. Aktivitas ini menunjukkan adanya optimisme investor di tengah dinamika pasar keuangan global.
Sektor transportasi menjadi pendorong utama kenaikan indeks dengan penguatan sebesar 1,84 persen. Sektor energi juga memberikan kontribusi signifikan lewat pertumbuhan 1,32 persen, diikuti oleh sektor industri dasar yang naik 1,20 persen. Sektor-sektor ini memang menjadi indikator penting dalam mengukur mobilitas barang dan aktivitas produksi nasional.
Di sisi lain, jajaran saham unggulan atau LQ45 mencatat pergerakan yang variatif.
PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) memimpin daftar saham dengan kenaikan tertinggi atau top gainer setelah harganya melonjak 4,04 persen ke posisi Rp 2.320 per lembar saham. Tren positif ini diikuti oleh PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dengan penguatan 3,68 persen menjadi Rp 2.820, serta PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) yang naik 3,29 persen ke level Rp 11.000.
Sebaliknya, beberapa saham harus terkoreksi di zona merah hari ini.
PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) memimpin daftar penurunan atau top loser setelah harga sahamnya jatuh 2,80 persen ke level Rp 695. Tekanan jual juga menyasar PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dengan penurunan 0,68 persen ke angka Rp 7.325, serta PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang melemah 0,37 persen ke harga Rp 6.650 per lembar.
Pergerakan IHSG ini mencerminkan sentimen positif yang juga dirasakan oleh bursa saham dan pasar obligasi di kawasan Asia.
Investor saat ini sedang mencermati data ekonomi dari Amerika Serikat serta arah kebijakan suku bunga dari bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve. Ketidakpastian mengenai kebijakan suku bunga sering kali memicu volatilitas di pasar negara berkembang termasuk Indonesia.
Selain itu, pelaku pasar memantau penurunan imbal hasil US Treasury yang sempat memberikan tekanan pada obligasi pemerintah Jepang. Fokus investor kini tertuju pada laporan nonfarm payrolls Amerika Serikat yang dijadwalkan rilis pada Jumat mendatang sebagai petunjuk mengenai arah ekonomi global.
Sentimen pasar turut dipengaruhi oleh pernyataan Gubernur The Fed Christopher Waller.
Pernyataan ini menjadi sorotan setelah sebelumnya Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, memberikan sinyal yang meredam ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Para pelaku pasar berharap kebijakan moneter ke depan dapat memberikan kepastian bagi iklim investasi dunia.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor












