Rupiah Kembali Menguat Terhadap Dolar AS di Pembukaan Pasar Kamis Pagi

Nilai tukar rupiah menunjukkan pemulihan di awal perdagangan pasar spot Jakarta pada Kamis, 3 September 2026.
Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.05 WIB, mata uang Garuda menguat tipis sebanyak 18 poin atau sekitar 0,10 persen ke posisi Rp17.745 per dolar AS. Pergerakan ini terjadi setelah sehari sebelumnya rupiah sempat terkoreksi sebesar 19 poin ke level Rp17.763 per dolar AS.
Kondisi pasar keuangan global sendiri tengah berada dalam dinamika yang cukup volatil. Mata uang yen Jepang mencatat penguatan tajam sebesar 0,79 persen menjadi 158,92 yen per dolar AS pada perdagangan Rabu kemarin. Penguatan ini dipicu oleh aksi intervensi gabungan antara otoritas Amerika Serikat dan Jepang yang dilakukan sejak akhir Juli 2026 untuk menstabilkan kurs mata uang mereka.
Chris Scicluna, kepala riset ekonomi di Daiwa Capital Markets Europe, memberikan pandangan mengenai dinamika pasar valuta asing saat ini. Daiwa Capital Markets merupakan lembaga jasa keuangan global asal Jepang yang kerap menjadi acuan dalam analisis pasar modal internasional.
Scicluna menyatakan bahwa pergerakan pasangan mata uang dolar dan yen saat ini sulit untuk dipastikan penyebab dasarnya. Dia menduga pergerakan tersebut lebih menyerupai tindakan pemeriksaan kurs pasar daripada sebuah intervensi masif yang bertujuan membalikkan tren secara permanen.
Menurutnya, keraguan pasar beralasan karena intervensi serupa yang dilakukan sebelumnya terbukti kurang efektif dalam mengubah arah pergerakan mata uang secara signifikan.
Di sisi lain, mata uang global lainnya menunjukkan performa yang beragam. Euro terpantau melemah 0,06 persen ke level 1,1585 dolar AS, sementara poundsterling Inggris turun 0,23 persen ke posisi 1,3484 dolar AS.
Dolar Kanada justru menunjukkan penguatan sebesar 0,42 persen menuju level 1,384 dolar Kanada per dolar AS. Penguatan ini merespons kebijakan Bank of Canada yang memutuskan untuk menahan suku bunga acuan tetap berada di level 2,25 persen pada pertemuan Rabu kemarin.
Sebaliknya, dolar Selandia Baru justru mencatatkan pelemahan sebesar 0,78 persen ke level 0,5845 dolar AS. Kondisi ini dipicu oleh reaksi pasar terhadap keputusan bank sentral Selandia Baru yang kembali menaikkan suku bunga acuan untuk kedua kalinya secara berturut-turut pada hari Rabu.
Kenaikan suku bunga acuan biasanya dimaksudkan untuk menekan inflasi di negara tersebut. Namun, kebijakan pengetatan moneter yang agresif sering kali menciptakan tekanan jual pada mata uang lokal di pasar spot internasional.
Bagi pelaku pasar di Indonesia, penguatan rupiah yang terjadi hari ini menjadi sinyal positif di tengah tekanan eksternal yang cukup kuat. Stabilitas nilai tukar menjadi perhatian utama para investor asing dalam menentukan portofolio investasi mereka di pasar modal Indonesia.
Meskipun volatilitas masih membayangi, kebijakan moneter yang konsisten dari Bank Indonesia diharapkan dapat terus menjaga kepercayaan pasar. Pelaku pasar akan terus memantau pergerakan data ekonomi global sepanjang pekan ini untuk menentukan arah investasi selanjutnya.
Baca juga tulisan lainnya dari Fajar Nugroho
Penulis: Fajar Nugroho
Editor: Beritana Editor










