
Pembiasaan pola hidup bersih dan sehat bagi peserta didik di sekolah tidak cukup hanya terbatas pada praktik mencuci tangan menggunakan sabun.
Direktur Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas Kementerian Kesehatan RI, Niken Wastu Palupi, menegaskan pentingnya konsistensi dalam menanamkan perilaku hidup sehat sejak dini. Upaya ini harus mencakup aspek kebersihan diri, aktivitas fisik, pemeriksaan kesehatan rutin, hingga kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Niken menyampaikan hal tersebut di sela kegiatan edukasi Sekolah Sehat yang berlangsung di SMPN 73 Jakarta. Menurutnya, perilaku yang dilakukan secara berulang saat masih duduk di bangku sekolah akan terbawa hingga anak beranjak dewasa. Inilah fondasi utama dalam pembentukan karakter generasi masa depan.
Kementerian Kesehatan kini memperkuat penerapan Trias Usaha Kesehatan Sekolah bersama puskesmas setempat. Fokusnya adalah memastikan peserta didik memahami dan mempraktikkan gaya hidup sehat sebagai bagian dari rutinitas harian mereka.
Materi edukasi di tingkat satuan pendidikan saat ini telah mengalami perluasan cakupan yang cukup signifikan. Selain kebersihan personal, kurikulum tambahan mencakup kesehatan reproduksi, manajemen pengelolaan sampah, hingga pencegahan perundungan di lingkungan sekolah.
Program Anak KAO atau Kreatif, Aktif, Optimis yang berjalan selama satu dekade menjadi salah satu pendorong utama inisiatif ini. Program tersebut menyasar lebih dari 11.000 siswa di 50 sekolah yang tersebar di wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Nusa Tenggara Timur pada tahun 2026.
Direktur Sekolah Menengah Pertama Kemendikdasmen RI, Dr. Maulani Mega Hapsari, menyebut bahwa lingkungan sekolah yang mendukung aktivitas kreatif akan menghasilkan dampak besar. Hal tersebut sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045 melalui tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat.
Pembentukan generasi emas menuntut keterlibatan lintas sektor agar edukasi yang diberikan mampu melampaui batas ruang kelas. Pihak sekolah kini menyediakan titik pengumpulan sampah atau waste point sebagai sarana pembelajaran langsung bagi siswa dalam memilah sampah kemasan.
Presiden Direktur Kao Indonesia, Shoichi Hasegawa, menyatakan bahwa keterlibatan berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk membangun kesadaran kolektif. Selama sepuluh tahun berjalan, program ini telah menjangkau lebih dari 52.000 peserta didik di ratusan sekolah di Indonesia.
Shoichi berharap edukasi yang diterima di sekolah dapat diimplementasikan di lingkungan rumah masing-masing. Transformasi kebiasaan ini menjadi kunci bagi keberlanjutan hidup bersih, sehat, dan peduli terhadap lingkungan di masa depan.
Perluasan jangkauan ke wilayah Indonesia bagian timur, termasuk Papua, direncanakan untuk memperkuat dampak positif program ini secara nasional. Kesinambungan edukasi menjadi parameter keberhasilan dalam mencetak generasi penerus bangsa yang lebih cerdas dan tangguh.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor