Banjir Bandang Nepal-Tibet Tewaskan 1.204 Jiwa, Ribuan Warga Masih Hilang

Bencana banjir bandang yang dipicu luapan danau gletser di wilayah perbatasan Nepal dan Tibet telah merenggut 1.204 nyawa hingga Rabu, 2 September 2026.
Otoritas Manajemen dan Pengurangan Risiko Bencana Nasional Nepal menyatakan musibah ini bermula ketika tanggul alami danau gletser di pegunungan Himalaya jebol pada 26 Agustus lalu. Kejadian ini mengakibatkan gelombang air masif menyapu permukiman di sepanjang Sungai Bhote Koshi.
Berdasarkan data resmi pemerintah, sebanyak 3.916 orang dilaporkan masih dalam status hilang. Operasi pencarian dan penyelamatan terus berlangsung di tengah kondisi medan yang berat dan akses jalan darat yang terputus total.
Tim evakuasi sejauh ini telah berhasil menyelamatkan 11.814 warga lokal serta mengevakuasi 330 warga negara asing dari zona terdampak. Fokus utama operasi SAR kini beralih pada upaya penyelamatan ratusan pekerja yang terjebak di dalam saluran bawah tanah proyek pembangkit listrik.
Estimasi otoritas setempat menyebutkan lebih dari 600 pekerja hidroelektrik masih terperangkap di terowongan wilayah utara kota Bidur. Selain itu, ratusan buruh lainnya dilaporkan masih tertahan di 11 titik proyek pembangkit listrik yang tersebar di distrik Rasuwa dan Nuwakot.
Pemerintah Singapura telah menerjunkan tim ahli Disaster Victim Identification untuk membantu proses identifikasi korban. Langkah ini diambil menyusul adanya sembilan warga negara Singapura yang terdata sebagai korban hilang dalam bencana tersebut.
Kepolisian Singapura saat ini tengah mengumpulkan sampel DNA dari pihak keluarga para korban sebagai bagian dari prosedur verifikasi jenazah. Pihak kepolisian menyatakan langkah tersebut dilakukan untuk mendukung upaya pemulihan bencana serta mempercepat identifikasi di lokasi kejadian.
Beberapa nama warga Singapura yang berada dalam daftar pencarian antara lain Shubakshi Rawla, Sumit Rawla, Estee Loeh, Ghosh Aditi, dan Ng Kit Kuen. Selain itu, nama Rajesvaran Ayyavoo, Rengarajan Prabu, Shalinny Deavy Elan Sozan, serta Subramaniam Diraviam juga masuk dalam daftar orang hilang.
Hantaman material longsor yang dipicu penyusutan gletser telah melumpuhkan infrastruktur vital di sepanjang kawasan pegunungan tersebut. Tanpa adanya sistem peringatan dini yang efektif, gelombang air raksasa tersebut bergerak cepat menghancurkan apapun yang dilaluinya.
Para petugas SAR di lapangan kini harus berjibaku dengan medan pegunungan yang sangat ekstrem. Mereka terpaksa menempuh jalur sulit untuk mencapai area reruntuhan karena banyak akses utama yang hancur total diterjang arus banjir.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor








