Dolly Parton: Warisan Musik, Keteguhan Hati, dan Visi Bisnis Melampaui Nada

Warisan musik Dolly Parton bukan sekadar rangkaian lagu, melainkan cerminan keteguhan hati dan kecerdasan bisnis yang membentuk perjalanan kariernya. Pada tahun 1980, saat syuting film Hollywood pertamanya, 9 To 5, ia menemukan ide melodi untuk lagu tema film itu di sela-sela adegan.
Gitar pribadinya dilarang di lokasi syuting, sehingga Parton harus berimprovisasi dengan menciptakan irama melalui gesekan kuku akriliknya. Ia menyadari bahwa suara tersebut sangat mirip dengan mesin tik yang digunakan karakternya, seorang sekretaris yang kerap diremehkan dan dilecehkan secara seksual oleh atasannya.
Dengan antusias, Parton menghampiri rekan mainnya, Lily Tomlin dan Jane Fonda, yang juga produser film tersebut, untuk menyanyikan lagu barunya. Fonda, yang mengenang momen itu, mengungkapkan, "Lily dan saya saling berpandangan dan merinding. Kami tahu, ini bukan sekadar lagu film, ini adalah sebuah lagu kebangsaan."
Baca Juga:
- ESDM Kirim 48 Genset ke Puskesmas NTT, Tingkatkan Layanan Medis
- Kemenag Bantah Keras Isu Mundurnya Menag Nasaruddin Umar untuk PBNU
- Prabowo Targetkan Karhutla RI Tuntas dalam Dua Pekan, Waspada El Nino
Dirilis pada November 1980, lagu 9 To 5 menjadi satu-satunya singel Dolly Parton yang menduduki puncak tangga lagu di Amerika Serikat sebagai artis solo. Lagu ini juga mengantarkannya pada nominasi Oscar untuk kategori lagu terbaik.
Dolly Parton seringkali dengan bangga menceritakan kisah di balik terciptanya lagu itu dengan kuku akriliknya. Namun, 9 To 5 meninggalkan warisan lain yang tak kalah penting: pernyataan kuat tentang kehidupan pekerja dan posisi perempuan dalam dunia korporat.
Hingga kini, banyak orang mungkin dapat langsung menyanyikan bagian hook lagu tersebut: "Working 9 To 5 / What a way to make a living!" Liriknya ceria dan mudah diingat, namun sentimen yang disampaikan bersifat universal: kerja memang melelahkan. "Ini permainan orang kaya, apapun sebutannya," ia bernyanyi, "dan kau menghabiskan hidupmu mengisi dompetnya. Mereka hanya memanfaatkan pikiranmu dan tidak pernah memberimu penghargaan."
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)
















