Warga Palestina-Amerika Hadapi Kepungan Pemukim di Konflik Tepi Barat

Seorang warga Palestina-Amerika memutuskan kembali ke rumah keluarganya di Tepi Barat yang tengah dikepung oleh kelompok pemukim Israel selama lebih dari sepekan. Langkah berani ini diambil di tengah eskalasi konflik Tepi Barat yang terus memanas dalam beberapa bulan terakhir.
Loui Ridi, pria asal Ohio, Amerika Serikat, tiba di Desa Qusra pada Senin malam untuk bergabung dengan keluarganya yang bertahan di dalam rumah.
Desa Qusra merupakan wilayah di selatan Nablus yang sering menjadi titik ketegangan akibat perluasan permukiman ilegal Yahudi. Di lokasi ini, kelompok pemukim sayap kanan Israel mengepung beberapa rumah warga sipil dan melarang penghuninya keluar untuk beraktivitas. Pemerintah Amerika Serikat telah mengecam pengepungan tersebut, sementara militer Israel mengerahkan pasukan dengan dalih menjaga ketertiban.
Aksi pengepungan ini memperpanjang catatan kekerasan di wilayah pendudukan yang kian intensif di bawah pemerintahan sayap kanan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Otoritas kesehatan Palestina mencatat setidaknya 87 warga Palestina tewas akibat tindakan tentara serta pemukim Israel sepanjang tahun ini. Sebaliknya, tiga warga Israel dilaporkan tewas dalam konflik serupa, termasuk dua orang dalam bentrokan di Desa Tell pada bulan lalu.
Sebelum memutuskan terbang ke Timur Tengah, Ridi memantau langsung situasi mencekam di kediamannya melalui kamera pengawas yang terhubung ke ponselnya. Ia mengaku tidak bisa memejamkan mata karena cemas melihat properti keluarganya dijarah. Rekaman video dari saudara laki-lakinya juga memperlihatkan para pemukim mengendarai kendaraan segala medan di sekitar halaman rumah mereka.
"Saya terus memantau kejadian ini secara langsung selama berhari-hari, dan saya tidak bisa membiarkan mereka merebut rumah saya begitu saja," ujar Ridi saat tiba di bandara internasional Israel.
Setibanya di Qusra, Ridi segera menemui ibu dan saudara perempuannya sebelum menuju ke rumah utama yang dijaga oleh saudara laki-laki dan keponakannya yang masih remaja. Penjagaan ketat secara mandiri terpaksa dilakukan demi mencegah kelompok pemukim menguasai bangunan tersebut secara ilegal.
Meski militer Israel telah menetapkan kawasan tersebut sebagai zona militer tertutup, situasi di lapangan dilaporkan tidak banyak berubah. Saudara Ridi sempat merekam momen yang memperlihatkan tentara Israel justru berinteraksi secara akrab dengan kelompok pemukim. Ridi menegaskan bahwa setiap pemilik tanah berhak atas rasa aman dan kebebasan untuk mengakses properti pribadi mereka tanpa intimidasi.
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update
Penulis: Beritana Update
Editor: Beritana Editor














