Mancini Akui Permainan Timnas Italia Kurang Mengalir Meski Taklukkan Turki di Nations League

Timnas Italia berhasil meraih kemenangan 3-1 atas Turki dalam lanjutan UEFA Nations League, meskipun sang pelatih Roberto Mancini mengakui permainan Gli Azzurri masih kurang mengalir. Laga yang digelar di Stadion Renato Dall’Ara, Bologna, ini menjadi panggung bagi eksperimen Mancini dengan melakukan sembilan perubahan pemain dari susunan sebelumnya.
Mancini memang telah memprediksi timnya akan kehilangan sedikit fluiditas bermain saat menghadapi Turki pada Selasa dini hari WIB. Keputusan merotasi skuad secara besar-besaran adalah alasan utama di balik antisipasi tersebut.
Gli Azzurri, julukan timnas Italia, tidak langsung mendominasi sejak awal pertandingan. Turki justru mampu menguasai jalannya babak pertama dan beberapa kali menciptakan ancaman serius ke gawang Gianluigi Donnarumma.
Italia akhirnya memecah kebuntuan melalui Gianluca Scamacca, yang dengan sigap memanfaatkan bola pantulan untuk membuka keunggulan. Namun, keunggulan itu tak bertahan lama.
Aral Simsir kemudian berhasil menyamakan kedudukan, menjadikan pertandingan semakin sulit bagi tuan rumah. Gol tersebut menuntut Italia untuk bekerja lebih keras mengendalikan kembali permainan.
Kemenangan Timnas Italia baru bisa dipastikan lewat dua gol tambahan di babak akhir. Riccardo Calafiori mencetak gol pertamanya untuk timnas senior, disusul gol penutup dari Pio Esposito yang mengunci skor 3-1.
Mancini menjelaskan, perubahan besar dalam susunan pemain menjadi salah satu alasan utama mengapa permainan Italia tidak langsung menunjukkan kelancaran seperti yang diharapkan. Ia mengakui ada rasa lelah yang menghampiri para pemain.
"Meskipun ada perubahan, tentu ada rasa lelah," ujar Mancini kepada RAI Sport. "Kami kesulitan di awal, tapi pemain tampil bagus untuk membalikkan keadaan dan mencetak gol lagi setelah skor 1-1."
Ini adalah laga keempat dalam periode waktu yang sangat singkat, menurut Mancini. Secara keseluruhan, ia menilai timnya tetap menjalani pertandingan yang bagus meski dengan segala tantangan tersebut.
Faktor rotasi besar-besaran, terutama setelah bermain imbang 1-1 melawan Prancis di Paris, membuat Mancini tidak terkejut dengan penurunan koordinasi. Ia bahkan menyebut hilangnya fluiditas permainan sebagai sesuatu yang sepenuhnya sudah diperkirakan sebelum peluit pertama dibunyikan.
"Satu-satunya kepastian adalah kami akan kehilangan sebagian fluiditas permainan," kata Mancini. "Itu sudah sepenuhnya diperkirakan."
Selain kelelahan dan rotasi, Mancini juga harus mempertimbangkan kondisi beberapa pemain yang telah mengantongi kartu kuning. Risiko mendapatkan kartu kedua dan sanksi larangan bermain menjadi pertimbangan penting dalam keputusannya menarik keluar pemain.
"Kami juga memiliki dua pemain yang sudah mendapat kartu kuning dan wasit tampaknya cenderung memberikan kartu lagi kepada mereka, jadi saya menarik mereka keluar," jelasnya. Keputusan ini terbukti tepat, Italia berhasil menjaga disiplin dan fokus hingga akhir laga.
Pelatih berusia 59 tahun itu juga menyoroti penampilan gelandang Cagliari, Alessandro Romano. Romano kembali diberi kesempatan membela Italia, dan menariknya, ia tidak hanya bermain sebagai playmaker tetapi juga beberapa kali mengisi posisi mezz'ala, peran gelandang serang di sisi lapangan.
"Romano bisa menjalankan peran itu dengan mudah," ungkap Mancini. "Dia perlu memainkan pertandingan-pertandingan seperti ini untuk terus berkembang."
Mancini tampaknya melihat Romano sebagai pemain dengan fleksibilitas dan potensi besar untuk menjadi bagian penting dari masa depan Gli Azzurri. Pengalaman bermain di bawah tekanan tinggi dalam pertandingan seperti melawan Turki ini diyakini akan sangat membantu proses perkembangannya.
Kemenangan atas Turki ini menutup rangkaian empat pertandingan Nations League dalam rentang waktu 11 hari dengan catatan positif bagi Italia. Setelah takluk 0-2 dari Belgia pada laga pembuka, Gli Azzurri bangkit dengan mengalahkan Turki 4-1 di Bursa, menahan imbang Prancis 1-1 di Paris, dan kembali menundukkan Turki 3-1 di Bologna.
Saat ini, Italia menempati posisi kedua di Grup A dengan torehan tujuh poin. Mereka berada di bawah Prancis yang mengoleksi 10 poin, namun unggul satu angka atas Belgia yang menempati peringkat ketiga.
Perjalanan Italia di Nations League akan berlanjut pada November 2026. Gli Azzurri dijadwalkan menjamu Prancis pada tanggal 12 November, sebelum melakoni laga tandang ke markas Belgia tiga hari kemudian.
"Kami harus terus seperti ini," tegas Mancini, "kemungkinan besar kami harus berjuang menentukan posisi kami di Belgia." Ungkapan ini menggarisbawahi pentingnya dua pertandingan mendatang bagi nasib Italia di kompetisi ini.
Baca juga tulisan lainnya dari Hendra Saputra
Penulis: Hendra Saputra
Editor: Beritana Editor









