Sanksi AS Cekik Ekonomi Iran: Inflasi Tinggi Picu Gejolak

Tekanan ekonomi Iran kian memburuk di tengah klaim ketahanan negara tersebut melawan Amerika Serikat (AS). Sanksi AS yang baru dikhawatirkan memperparah kesulitan hidup masyarakat, memicu gejolak sosial, dan mengikis legitimasi pemerintahan.
Washington berjanji menghantam Teheran dengan langkah ekonomi "belum pernah dilihat sebelumnya". Kondisi ekonomi Iran sudah rapuh, ditandai inflasi tinggi, mata uang melemah, dan persoalan struktural, bahkan sebelum konflik yang memperburuk kerusakan infrastruktur.
Dampak langsung dirasakan warga seperti Arshia, seorang insinyur sipil yang kesulitan mencari pekerjaan. "Jika Trump menjatuhkan lebih banyak sanksi, bagaimana rakyat biasa bisa bertahan?" ungkapnya kepada Reuters.
Mohsen, pengusaha impor-ekspor, terpaksa menutup bisnisnya dan memecat 10 karyawan akibat gangguan perdagangan. Data Pusat Statistik Iran menunjukkan inflasi tahunan mencapai 66% pada Juli, dengan harga pangan naik 128% secara tahunan.
Tekanan inflasi ini membuat keluarga memangkas konsumsi daging dan kebutuhan pokok. Hossein, pegawai pemerintah, merasa malu karena gajinya habis dalam hitungan hari untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Kenaikan harga sewa rumah dan pelemahan nilai tukar rial semakin membebani masyarakat, meski upah minimum naik. Bijan, seorang insinyur, kini mengajar daring dan harus pindah ke provinsi berbiaya hidup lebih murah.
Bagi penguasa, ancaman terbesar adalah kemungkinan demonstrasi massal akibat memburuknya kondisi hidup. Pengangkatan pemimpin milisi Basij yang dikenal represif mengindikasikan kekhawatiran ini.
Basij, bersama Garda Revolusi, sebelumnya menumpas protes ekonomi. Tindakan keras pemerintah terhadap aktivis dan jurnalis, meski diklaim untuk stabilitas, justru memperlebar jarak dengan masyarakat yang frustrasi.
Presiden Masoud Pezeshkian mengakui bahwa masalah negara berlipat ganda dan pendapatan menurun. Blokade AS juga memperumit distribusi barang, bahkan memutus impor bensin Iran, menciptakan kesenjangan pasokan.
Kemerosotan ekonomi yang mendalam ini dapat menjadi "hantu" yang meruntuhkan Iran dari dalam.
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update
Penulis: Beritana Update
Editor: Beritana Editor











