Benarkah Makan Telur Memicu Bisul? Simak Penjelasan Ahli Gizi IPB University

Anggapan bahwa konsumsi telur berlebihan dapat menyebabkan bisul masih dipercaya oleh sebagian masyarakat Indonesia hingga saat ini. Mitos ini seringkali membuat orang membatasi asupan protein hewani tersebut demi menghindari gangguan kulit.
Namun, secara medis, kaitan antara telur dan kemunculan bisul tidak terbukti secara langsung. Pakar kesehatan menegaskan bahwa penyebab utama infeksi kulit tersebut adalah aktivitas bakteri, bukan jenis makanan yang dikonsumsi.
Bisul pada dasarnya merupakan infeksi pada folikel rambut atau kelenjar minyak yang dipicu oleh bakteri Staphylococcus aureus. Bakteri ini sebenarnya merupakan flora normal yang hidup di permukaan kulit manusia tanpa menimbulkan masalah pada kondisi tubuh yang sehat.
Ahli Gizi dari IPB University, Dr dr Karina Rahmadia Ekawidyani, MGizi, menjelaskan bahwa infeksi baru akan terjadi jika bakteri tersebut masuk ke dalam lapisan kulit yang luka. Kondisi sistem kekebalan tubuh yang menurun serta tingkat kebersihan diri yang rendah menjadi faktor pendorong utama munculnya bisul.
Kelompok anak-anak cenderung lebih rentan mengalami bisul dibandingkan orang dewasa. Hal ini terjadi karena sistem kekebalan tubuh mereka yang belum terbentuk sempurna serta aktivitas fisik tinggi yang sering memicu luka akibat gesekan atau garukan.
Kebiasaan menjaga kebersihan diri sangat menentukan risiko infeksi seseorang. Kurangnya frekuensi mandi atau membiarkan kuku tangan tetap panjang dapat memperbesar peluang masuknya bakteri ke dalam lapisan kulit melalui luka kecil yang tidak disadari.
Lalu, bagaimana dengan anggapan bahwa telur memicu gatal dan bisul? Reaksi alergi telur memang nyata, namun bentuknya berbeda dengan bisul yang disebabkan oleh infeksi bakteri.
Alergi telur biasanya ditandai dengan munculnya ruam kemerahan, bentol, serta rasa gatal yang hebat pada area kulit. Rasa gatal inilah yang kemudian menjadi jembatan tidak langsung menuju bisul.
Ketika seseorang merasa sangat gatal dan menggaruk kulit secara berlebihan, akan muncul luka terbuka yang menjadi celah bagi bakteri Staphylococcus aureus untuk masuk. Dalam konteks ini, konsumsi telur hanya menjadi pemicu reaksi alergi yang kemudian berujung pada luka akibat garukan.
Masyarakat yang tidak memiliki riwayat alergi terhadap telur tidak perlu merasa khawatir untuk mengonsumsinya. Telur merupakan sumber protein berkualitas tinggi yang tetap direkomendasikan dalam pola makan seimbang harian.
Kunci utama untuk mencegah bisul adalah menjaga kebersihan kulit secara rutin dan memastikan imunitas tubuh tetap terjaga. Konsumsi makanan bergizi harus terus dilakukan agar daya tahan tubuh terhadap infeksi bakteri tetap optimal sepanjang waktu.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
-af2f7.webp)








![Nvidia CEO Jensen Huang tells Trump ‘we’re not going to let [an AI slowdown] happen’](https://cdn.beritana.com/media/2026/09/nvidia-ceo-jensen-huang-tells-trump-were-not-going-to-let-an-ai-slowdown-hap.webp)






