IHSG Melemah Tipis di Tengah Bayang-bayang Ketegangan Global dan Optimisme Domestik

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan pada Rabu, 2 September 2026, dengan pelemahan tipis 0,06% menuju level 6.595,78. Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan global dan sentimen campuran dari pasar domestik.
Meskipun sempat menguat ke level 6.629 pada awal sesi, pasar saham domestik tak lepas dari bayang-bayang tekanan jual di pasar obligasi global. Kecemasan akan inflasi yang tinggi, potensi kenaikan suku bunga acuan, serta beban utang yang masif menjadi pemicu utama gejolak tersebut. Alrich Paskalis Tambolang, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, mengungkapkan sentimen negatif ini masih berasal dari faktor eksternal.
"Sentimen negatif masih berasal dari tekanan jual di pasar obligasi global akibat kecemasan akan tingginya inflasi, potensi kenaikan suku bunga, serta tingginya beban utang," ujar Alrich kepada Kontan.
Namun, di sisi lain, sentimen positif berhasil datang dari dalam negeri. Muhammad Wafi, Head of Research KISI, menilai pelantikan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia telah menjadi dorongan positif bagi IHSG.
Ia menambahkan, data makroekonomi domestik yang solid turut menjadi penopang. Inflasi Agustus yang masih dalam target dan neraca dagang Juli yang mencatat surplus setelah defisit pada bulan sebelumnya, memberikan sinyal positif bagi investor.
"Inflasi Agustus masih dalam target, neraca dagang Juli surplus membalikkan defisit bulan sebelumnya, juga menjadi sentimen yang mendukung IHSG," jelas Wafi.
Kekuatan fundamental ekonomi Indonesia juga ditekankan oleh Nafan Aji Gusta, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas. Angka inflasi Agustus yang sebesar 3,19% dan surplus neraca perdagangan menjadi indikator nyata kemampuan ekonomi nasional menghadapi tekanan eksternal.
Kembali ke faktor global, konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memanas kembali menjadi perhatian serius. Gangguan potensial di Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak vital dunia, berpotensi besar menaikkan harga minyak global. Situasi ini tentu saja meningkatkan kekhawatiran akan lonjakan inflasi dan prospek pengetatan kebijakan suku bunga.
Alrich Paskalis Tambolang menjelaskan, investor global kini juga menantikan keputusan kebijakan suku bunga dari bank sentral utama dunia bulan ini. The Federal Reserve, Bank of Japan, dan European Central Bank dijadwalkan akan mengumumkan arah kebijakan moneternya, mendorong investor mengalihkan aset ke instrumen berisiko rendah.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor















