Joao Pedro Bersinar di Stamford Bridge, Bukti Pembungkam Ancelotti dan Misi Chelsea

Penyerang Chelsea, Joao Pedro, tampil memukau saat The Blues menjamu Brighton and Hove Albion di Stamford Bridge, London, pada 30 Agustus 2026. Bersama Cole Palmer dan Morgan Rogers, Pedro menjadi motor kemenangan dengan kontribusi gol yang signifikan, disaksikan langsung oleh Carlo Ancelotti dan Thomas Tuchel.
Performa apik Joao Pedro malam itu terasa istimewa, seolah menjadi pembuktian dirinya setelah tersingkir dari skuad Brasil untuk Piala Dunia 2026. Ancelotti, yang kala itu melatih tim nasional Brasil, tidak memboyong Pedro, salah satunya karena pertimbangan romantisme terhadap bintang seperti Neymar Jr.
Ketika para striker top Premier League berlaga di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko pada Juni-Juli lalu, Pedro harus puas menonton Piala Dunia sebagai seorang 'pecundang'.
Mimpi untuk membela negaranya di turnamen akbar itu tidak terwujud.
Ia menyaksikan Brasil melangkah hingga babak 16 besar, sebelum akhirnya langkah mereka dihentikan oleh Erling Haaland dan kawan-kawan. Kekalahan itu menyisakan kepedihan bagi para pencinta sepak bola Brasil, tak terkecuali Pedro.
Namun, dari kekecewaan tersebut, sebuah konfirmasi tersirat muncul: keputusan Ancelotti untuk tidak membawa Pedro ke Piala Dunia 2026 mungkin keliru. Pedro dikenal sebagai penyerang yang memiliki naluri penyelesaian akhir tajam, piawai menjemput bola, bagus dalam menggiring, dan dapat beroperasi di berbagai posisi menyerang.
Melawan Brighton, klub asalnya sebelum bergabung dengan Chelsea musim lalu, Pedro seolah menuntaskan 'dendam' yang terpendam.
Ini adalah momen pembuktian bahwa Ancelotti seharusnya mempertimbangkan ulang keputusannya. Pedro benar-benar memesona hari itu.
Ia berkontribusi penting pada gol pertama Chelsea. Sundulannya di kotak penalti Brighton menciptakan kekacauan di lini pertahanan lawan, berujung pada miskomunikasi antara kiper dan bek.
Kondisi ini membuka peluang bagi Romeo Lavia untuk menyambar bola dan mencetak gol pembuka bagi Chelsea.
Kontribusi Pedro tidak berhenti di situ.
Pada gol kedua, Pedro kembali menunjukkan kepiawaiannya dengan sundulan jitu. Ia mengumpan bola kepada Morgan Rogers, yang kemudian menusuk ke kotak penalti dari sisi kiri dan membelokkan bola ke sisi kanan untuk diselesaikan oleh Pedro Neto menjadi gol.
Gol ketiga menunjukkan ketenangan Pedro sebagai ujung tombak. Melalui serangan balik cepat, Jorrel Hato menerima umpan panjang dari Rogers di sisi kiri.
Pemain berpaspor Belanda itu berhasil memenangkan adu lari dengan bek lawan, lalu mengalirkan bola kepada Pedro yang sudah menunggu di kotak penalti.
Dengan kaki kanannya, Pedro menuntaskan peluang itu menjadi gol, membuat Stamford Bridge bergemuruh.
Namun, hari itu bak permen "nano-nano" bagi Pedro. Ia turut membantu pertahanan, namun kakinya terlibat dalam gol kedua Brighton, sebuah gol bunuh diri. Skor 3-2 membuat pasukan asuhan Xabi Alonso terdesak, sehingga Joao Pedro dan kawan-kawan harus mencari satu gol lagi untuk mengamankan pertandingan.
Momen yang ditunggu akhirnya tiba.
Malo Gusto mengirimkan bola hasil lemparan ke dalam kepada Pedro. Striker jangkung ini dengan cermat melihat Cole Palmer bergerak membuka ruang.
Bola pun ia sodorkan kepada Palmer, yang kemudian dengan lincah menguasai si kulit bundar dan membelah pertahanan Brighton. Pada menit ke-74, kaki kiri Palmer menunjukkan kemagisannya.
Gol keempat Chelsea itu seolah menjadi pernyataan Palmer kepada Thomas Tuchel, yang tidak membawanya ke skuad Inggris di Piala Dunia 2026.
Malam itu adalah panggung Palmer, tetapi lebih dari itu, sebuah konser bagi Joao Pedro di hadapan Carlo Ancelotti. Seperti seorang musisi, Pedro benar-benar menggebrak.
Dari dua laga awal Liga Premier Inggris musim ini, Pedro dan Palmer masing-masing telah mengemas dua gol. Pedro juga menyumbangkan dua assist, sementara Palmer baru satu.
Musim masih panjang, potensi mereka masih akan terus diuji.
Meski lini serang Chelsea tampil produktif, pertahanan tim yang kini dijaga oleh kiper gaek Emiliano Martinez masih terlihat keropos. Ditambah satu gol bunuh diri Pedro, Martinez atau yang akrab disapa Dibu, harus sedikit menelan malu karena gawangnya kebobolan tiga kali oleh Lewis Dunk dan kawan-kawan.
Skor 4-3 adalah jenis pertandingan yang disukai para pencinta sepak bola. Namun, ini bukan babak gugur di Piala Dunia, melainkan laga kedua dari 38 pertandingan kompetisi yang panjang.
Joao Pedro dan seluruh skuad dituntut untuk konsisten, solid, memiliki mentalitas kuat, dan mampu bertahan dengan baik.
Hanya bagus dalam menyerang sama artinya dengan membuka pintu rumah untuk dijarah pencuri, dalam hal ini adalah para penyerang klub-klub Liga Premier Inggris yang buas. Tim racikan Xabi Alonso berpeluang mengejutkan musim ini. Dalam dua laga awal, Chelsea telah melesakkan tujuh gol, namun juga kemasukan lima gol.
Di sinilah pekerjaan rumah utama Alonso: membenahi pertahanan dengan formasi tiga bek.
Pertahanan yang kokoh tidak hanya bergantung pada kinerja para bek, melainkan juga sokongan kuat dari lini tengah sangat dibutuhkan.
Dalam laga kontra Brighton, Chelsea terlihat kewalahan karena tidak bisa menurunkan Moises Caicedo sejak awal pertandingan. Enzo Fernandez juga tidak tersedia. Gelandang penting ini tidak ada di daftar susunan pemain maupun bangku cadangan karena telah memutuskan untuk pindah ke Manchester City.
Chelsea di era Xabi Alonso kembali mengandalkan formasi 3-4-3.
Formasi ini membutuhkan jangkar berkualitas seperti Caicedo. Posisi itu juga bisa diisi oleh kapten tim, Reece James. Namun, James rentan cedera, sehingga Alonso perlu mencari pelapis yang mumpuni.
Pada penutupan bursa transfer, Chelsea masih harap-harap cemas terkait potensi pembelian Lamine Camara dari AS Monaco.
Camara adalah gelandang berbakat, meskipun kualitasnya masih jauh dibandingkan Fernandez.
Chelsea berharap pada kematangan Jordan Henderson yang sudah berumur 36 tahun, untuk menambal kekacauan di lini tengah akibat cederanya Caicedo. Namun, mantan kapten Liverpool di era Juergen Klopp itu juga belum sepenuhnya fit. Tersisa Valentine Barco, gelandang berusia 22 tahun, yang berusaha keras membuktikan diri di Stamford Bridge.
Trisula Pedro, Palmer, dan rekrutan mahal Rogers sejauh ini telah menunjukkan potensi besar.
Namun, tidak mungkin menerapkan gaya permainan langsung (direct ball) kepada tiga penyerang tersebut tanpa lini penghubung yang mampu mengalirkan bola secara efektif.
Dalam formasi 3-4-3, gelandang pengalir bola biasanya hanya dua orang. Dua pemain lainnya adalah wing back yang memiliki tugas ganda: membantu melebar di lapangan dan turut bertahan saat diserang.
Formasi 3-4-3 ini pernah sukses di Chelsea pada masa Antonio Conte dan Thomas Tuchel, yang keduanya berhasil mempersembahkan trofi Liga Premier Inggris dan Liga Champions. Kisah Joao Pedro musim ini akan sangat ditentukan oleh bagaimana Alonso mampu menutup lubang di lini tengah yang masih menganga.
Pedro, atas keinginannya sendiri, telah meminta jersey dengan nomor punggung 9 kepada manajemen Chelsea. “Saya hanya berusaha menjalankan tugas saya.
Saya tidak memercayai kutukan itu,” katanya kepada BBC.
Pada musim lalu, nomor 9 di Chelsea digunakan oleh Liam Delap. Hasilnya kurang memuaskan, Delap gagal menunjukkan performa terbaiknya dan akhirnya dijual ke Nottingham Forest. Nomor punggung itu pun tanpa pemilik, hingga Pedro memilih untuk menggunakannya dengan kepercayaan diri yang begitu tinggi.
Nomor 9 adalah tanggung jawab besar untuk memproduksi gol. “Soal nomor punggung, tidak menentukan tekanan tersebut,” tegas Pedro lagi, menunjukkan mentalitas yang kuat.
Musim lalu, Pedro mencetak 15 gol dengan jersey nomor 20, sebuah catatan yang terbilang subur.
Pertanyaannya, akankah Pedro akan tampil lebih tajam lagi di musim ini dengan nomor keramat tersebut?
Sebagai seorang pengamat, saya terus terang merasa sedikit ambigu. Di panggung Liga Premier Inggris, Chelsea pernah melambungkan dan dilambungkan oleh Didier Drogba. Awalnya ia mengenakan nomor punggung 15, kemudian 11.
Keran golnya tidak perlu diragukan lagi.
Trofi menumpuk di lemari klub, dengan koleksi gelar mayor berupa tiga trofi Premier League dan satu trofi Liga Champions. Menariknya, Drogba tak pernah menyentuh nomor 9.
Pierre-Emerick Aubameyang, Romelu Lukaku, Alvaro Morata, hingga Mateja Kezman adalah deretan striker yang kurang beruntung dengan nomor punggung 9 di Chelsea. Sebagian besar penggemar menyebutnya sebagai 'kutukan' nomor 9.
Sepak bola memang tentang taktik, teknis, filosofi, dan manajemen.
Namun, kadang klenik ikut masuk tanpa diundang. Joao Pedro, tampaknya, tidak percaya dengan hal-hal mistis tersebut. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya dan Chelsea sedang merajut mimpi indah pada musim ini.
Dalam dua laga awal, Chelsea telah merampas poin penuh (6 poin).
Pedro berkilau, menjadi mesin gol, dan menempatkan dirinya sebagai kontributor penentu terhadap hasil akhir pertandingan.
Seandainya kompetisi Premier League berakhir dalam dua pertandingan, Joao Pedro telah membungkam Carlo Ancelotti yang sempat menyakitinya. Namun, sepak bola bukan barisan 'seandainya'. Sepak bola adalah tentang apa yang dicapai sebuah klub di akhir musim, setelah laga ke-38.
Musim lalu, Chelsea terpuruk, tidak lolos ke panggung Eropa.
Apakah musim ini akan menjadi penebusan dosa itu? Joao Pedro berharap begitu, begitu pula Xabi Alonso, dan tidak terkecuali kiper juara Piala Dunia 2022, Emiliano Martinez alias Dibu.
Sudah sepuluh tahun Chelsea tidak menggenggam trofi Premier League. Terakhir, The Blues menjadi juara di musim 2016/2017 bersama pelatih debutan Antonio Conte, dengan formasi 3-4-3.
Musim ini, Xabi Alonso—yang pernah merasakan ganasnya Premier League sewaktu membela Liverpool—juga sedang debut sebagai pelatih di liga yang sama. Alonso pun menyukai formasi 3-4-3.
Mimpi harus setinggi langit. Sembari bermimpi, Alonso dituntut untuk segera mengerjakan pekerjaan rumah tim.
Dan Joao Pedro didesak untuk terus mengemas gol demi gol.
Bagi saya, Pedro dapat disebut membungkam Don Carlo jika di akhir musim ini ia mampu mengantar Chelsea juara, atau setidaknya berada di tiga besar Premier League. Bila sebaliknya, keputusan Don Carlo bersama tim nasional Brasil harus dihormati sebagai kebijakan yang tepat pada waktu itu.
Baca juga tulisan lainnya dari Rizky Pratama
Penulis: Rizky Pratama
Editor: Beritana Editor












