Kenaikan Harga BBM Hantam Pasar Mobil Diesel Bekas Kota, Namun Bertahan di Daerah

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) terus memberi tekanan signifikan pada pasar mobil diesel bekas, terutama di kawasan perkotaan Indonesia. Dinamika ini, sebagaimana dilaporkan oleh Otomotif pada Jumat (4/9/2026), memicu koreksi minat pembeli dan nilai jual unit di kota-kota besar.
Di sisi lain, daya serap kendaraan bermesin peminum solar tersebut masih menunjukkan ketangguhan yang tinggi di sejumlah wilayah luar Jawa. Fenomena ini mengindikasikan adanya perbedaan karakter pasar yang dipengaruhi oleh kebutuhan dan kondisi ekonomi lokal.
Perubahan biaya operasional akibat penyesuaian tarif energi memicu penurunan minat calon pembeli di perkotaan secara langsung. Dampak lanjutan dari pergeseran tren tersebut berujung pada koreksi nilai jual unit bekas di pasar otomotif, menciptakan tantangan baru bagi para pedagang.
Tjung Subianto, Ketua Umum Asosiasi Mobil Bekas Indonesia (AMBI), menegaskan bahwa segmen kendaraan solar masih dipertahankan untuk menjangkau segmentasi konsumen tertentu. Ini berarti meskipun ada tekanan, pasar diesel memiliki basis pengguna loyal.
"Mobil diesel tetap hadir untuk memenuhi kebutuhan para konsumen yang membutuhkannya," kata Tjung Subianto.
Koreksi harga bahan bakar memang langsung berdampak pada ketertarikan masyarakat perkotaan terhadap unit berbahan bakar solar. Kondisi ini membuat harga pelepasan unit bekas di pasar kota besar mengalami penurunan.
"Karena harga bahan bakar naik, maka ada koreksi sedikit terhadap minat konsumen yang berdampak pada turunnya harga jual mobil berbahan bakar solar, khususnya di kota-kota besar," jelas Tjung Subianto.
Dinamika pasar yang berbeda jauh terjadi di wilayah basis komoditas, seperti perkebunan dan pertambangan di luar Jawa. Penjualan unit bekas di kawasan tersebut tidak mengalami hambatan berarti selama indikator ekonomi daerah, seperti harga komoditas, tetap terjaga baik.
"Akan tetapi, di Pulau Sumatera dan Kalimantan, jika hasil kebun baik, kondisi tersebut tidak begitu berdampak," imbuhnya, merujuk pada ketahanan pasar diesel di luar Pulau Jawa.
Mobil diesel sering kali menjadi pilihan utama di daerah-daerah tersebut karena dikenal akan ketangguhan, torsi besar, dan efisiensi bahan bakar untuk mengangkut beban berat atau melintasi medan yang sulit. Faktor-faktor ini jauh lebih prioritas dibandingkan fluktuasi harga BBM per liter bagi operasional bisnis dan mobilitas harian.
Thung Andi Supriadi, Pemilik Rendani Mobil, mengonfirmasi bahwa penjualan unit kendaraan diesel saat ini mengalami perlambatan signifikan. Tekanan pasar membuat pedagang memilih untuk membatasi penambahan persediaan barang dagangan demi menghindari kerugian.
"Kalau untuk saya sih lagi tidak beli mobil diesel. Tapi kalau yang saya lihat, mobil diesel lagi susah jualnya," kata Thung Andi Supriadi.
Ia menambahkan bahwa peta sebaran pembeli kendaraan diesel terbukti memusat di lokasi geografis tertentu. Perbedaan karakter operasional antardaerah membuat tingkat serapan pasar tidak merata secara nasional.
"Karena yang beli mobil diesel biasanya dari daerah tertentu saja," lanjut Thung Andi Supriadi.
Kondisi pasar saat ini menegaskan bahwa faktor harga bahan bakar memengaruhi keputusan pembelian unit bekas di kawasan perkotaan, di mana efisiensi dan biaya harian menjadi pertimbangan utama. Namun, utilitas kendaraan untuk sektor komersial, pertambangan, dan perkebunan di daerah tetap menjaga eksistensi kuat pasar mobil diesel bekas sebagai alat penunjang produktivitas.
Pergeseran ini mendorong industri otomotif untuk terus beradaptasi, mencari keseimbangan antara permintaan pasar perkotaan yang mencari efisiensi dan permintaan daerah yang mengutamakan durabilitas serta tenaga.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor













