Krisis Tenaga Kerja Menghantui Industri Teh Assam Akibat Perubahan Iklim

Industri teh di Assam, India, kini berada di titik nadir akibat dampak perubahan iklim yang memicu krisis tenaga kerja secara masif. Produksi teh di wilayah ini mencakup lebih dari separuh total kebutuhan teh di India, namun kini terancam oleh penurunan hasil panen dan eksodus pekerja ke sektor lain yang lebih menjanjikan.
Para pekerja perkebunan seperti Bidesh Kamar dan Sumitra Tanti mulai merasakan kesulitan hidup yang nyata. Cuaca ekstrem, termasuk banjir yang melanda wilayah timur laut India, telah mengganggu siklus kerja selama berminggu-minggu.
Kondisi ini menambah ketidakpastian bagi mereka yang bergantung pada upah harian. Lebih dari 50 kebun teh dilaporkan mengalami kerusakan parah akibat badai besar yang menerjang Assam baru-baru ini. Tanti mengungkapkan bahwa kehidupan mereka semakin sulit karena cuaca yang tidak menentu, sementara upah kerja cenderung rendah dan tidak dapat diandalkan lagi.
Baca Juga:
- ESDM Kirim 48 Genset ke Puskesmas NTT, Tingkatkan Layanan Medis
- Kemenag Bantah Keras Isu Mundurnya Menag Nasaruddin Umar untuk PBNU
- Prabowo Targetkan Karhutla RI Tuntas dalam Dua Pekan, Waspada El Nino
Kamar, yang telah mengabdi selama 15 tahun di perkebunan, mempertimbangkan untuk mencari pekerjaan di sektor lain. Menurutnya, teh tidak lagi memberikan keuntungan yang sama seperti masa lalu. Ketidakpastian kerja ini mencerminkan masalah besar yang sedang melanda industri teh di negara bagian tersebut.
Assam memproduksi sekitar 52 persen teh di India dan menopang kehidupan sekitar 700.000 pekerja perkebunan serta 140.000 petani kecil. Selama beberapa generasi, sektor ini sangat bergantung pada tenaga kerja manual untuk memetik daun teh secara presisi.
Baca juga tulisan lainnya dari Arief Wicaksono
Penulis: Arief Wicaksono
Editor: Beritana Editor

















