PVMBG Sebut Tubuh Gunung Anak Krakatau Saat Ini Belum Berpotensi Picu Tsunami

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menyatakan kondisi fisik Gunung Anak Krakatau pascaerupsi besar tahun 2018 belum menunjukkan tanda bahaya yang dapat memicu tsunami baru.
Penjelasan tersebut disampaikan menyusul meningkatnya kekhawatiran warga di pesisir Banten dan Lampung terkait aktivitas vulkanik terkini di selat Sunda. Pemerintah menegaskan situasi tetap dalam pengawasan ketat.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyebutkan bahwa hasil evaluasi teknis menunjukkan pertumbuhan tubuh gunung masih relatif kecil. Tidak ada indikasi keruntuhan masif yang mampu mengubah morfologi bawah laut secara drastis saat ini.
Masyarakat diminta tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Pengalaman traumatik atas peristiwa tahun 2018 diakui menjadi alasan utama munculnya kepanikan publik di wilayah tersebut.
Aktivitas erupsi yang terpantau sejak Jumat malam hingga Sabtu pagi sempat melontarkan lava fountain serta getaran letusan yang cukup signifikan. Catatan teknis menunjukkan gempa letusan dengan amplitudo 70 milimeter terjadi dengan durasi mencapai 21.600 detik.
Dampak dari lontaran material vulkanik tersebut bahkan memutus jaringan operasional kamera pemantau di sekitar kawah. Pihak berwenang saat ini sedang melakukan pemulihan sarana komunikasi untuk memastikan pemantauan visual tetap berjalan optimal.
Tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau kini masih bertahan pada Level III atau Siaga. Berdasarkan rekomendasi PVMBG, masyarakat, nelayan, serta wisatawan dilarang melakukan aktivitas apa pun di dalam radius tiga kilometer dari pusat kawah aktif.
Berton menambahkan pemerintah daerah kini memprioritaskan penegakan sterilisasi zona bahaya melalui patroli rutin. Seluruh personel BPBD diminta memastikan jalur evakuasi tetap terbuka dan titik kumpul di area pesisir dalam kondisi siap pakai.
Warga juga diimbau untuk menahan diri agar tidak mendekati lokasi kawah hanya demi kepentingan dokumentasi visual pribadi. Keselamatan jiwa harus tetap menjadi prioritas utama di tengah status siaga gunung berapi tersebut.
Koordinasi antara badan penanggulangan bencana dan lembaga geologi akan terus diperbarui secara berkala sesuai dengan data lapangan terbaru. Langkah ini dilakukan untuk memberikan rasa aman bagi masyarakat tanpa mengabaikan aspek kewaspadaan dini.
Baca juga tulisan lainnya dari Dimas Ardianto
Penulis: Dimas Ardianto
Editor: Beritana Editor











